Ketua Majelis Syura Islam (Parlemen) Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengungkapkan ketegangan geopolitik terbaru yang melibatkan negaranya dengan Amerika Serikat. Ia mengklaim bahwa ketegasan militer Iran berhasil memaksa Donald Trump menarik kembali pernyataannya yang kontroversial mengenai Selat Hormuz.

Menurut Ghalibaf, situasi memanas tersebut bermula saat terjadi serangan di wilayah Dahiyeh. Merespons situasi tersebut, Iran langsung menghentikan proses negosiasi dan bersiap melancarkan serangan balasan yang masif ke wilayah Israel serta seluruh kawasan sekitarnya jika ada tindakan balasan.

Tekanan militer ini membuahkan hasil cepat dengan dicabutnya blokade pada malam yang sama, jauh lebih cepat dari kesepakatan awal yang menargetkan waktu 30 hari. Momentum ini berlanjut ketika Donald Trump mengunggah pernyataan di media sosial yang mengklaim pembukaan blokade dan Selat Hormuz secara bersamaan.

Menanggapi klaim sepihak tersebut, Ghalibaf menegaskan bahwa Iran siap meluncurkan serangan militer jika informasi palsu mengenai Selat Hormuz tidak segera dikoreksi. Ancaman nyata ini akhirnya memaksa Trump untuk menyunting kembali unggahannya, sebuah langkah yang disebut Ghalibaf sebagai bentuk negosiasi berbasis perjuangan fisik dan diplomasi yang kuat.