Di tengah dinamika pasar keuangan global dan domestik yang penuh ketidakpastian, bisnis manajemen kekayaan (wealth management) perbankan tanah air terbukti tetap tangguh. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga acuan nyatanya tidak menghalangi para pelaku industri perbankan untuk mendulang keuntungan melalui pengelolaan portofolio nasabah yang adaptif terhadap perubahan pasar.

Bank DBS Indonesia menjadi salah satu lembaga keuangan yang mencatatkan kinerja positif ini. Hingga Juni 2026, dana kelolaan atau asset under management (AUM) perseroan pada segmen nasabah prioritas (private client) tumbuh sebesar 13 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Tidak hanya itu, rata-rata total kelolaan dana per nasabah juga mengalami peningkatan hingga 15 persen yoy di tengah situasi pasar yang sulit diprediksi.

Direktur Consumer Banking Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengungkapkan bahwa capaian ini diraih lewat strategi pengelolaan hubungan (relationship management) yang responsif dalam menyampaikan analisis pasar kepada nasabah. Saat ini, nasabah cenderung memilih instrumen yang menawarkan imbal hasil optimal seperti obligasi jangka pendek, reksa dana saham syariah internasional di sektor teknologi dan infrastruktur, serta produk terstruktur berbasis derivatif. Kinerja ini mendorong pendapatan komisi investasi DBS melonjak 65 persen yoy dan menyumbang kenaikan laba bersih segmen ini sebesar 24 persen yoy.

Tren pertumbuhan yang solid ini juga dibukukan oleh PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Sepanjang semester pertama tahun ini, lini bisnis wealth management menyumbang sekitar 35 persen terhadap total pendapatan segmen premier banking Maybank. Portofolio dana kelolaan pada segmen nasabah kelas atas (affluent) pun menunjukkan grafik menanjak dengan pertumbuhan mencapai 16 persen sejak tahun 2024.

Bianto Surodjo selaku Community Financial Service Maybank Indonesia menjelaskan bahwa nasabah kategori affluent kini memiliki orientasi investasi yang lebih beragam dan tidak terpaku pada satu kelas aset saja. Selain produk simpanan konvensional, instrumen surat berharga negara saat ini sangat diminati karena menawarkan imbal hasil menarik di tengah era suku bunga tinggi. Di samping itu, reksa dana ekuitas syariah global yang berfokus pada teknologi serta komoditas emas juga menjadi pilihan utama nasabah untuk mengamankan portofolio mereka.