Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali berada di titik nadir setelah eskalasi militer antara Iran dan Amerika Serikat pecah kembali. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan pernah tunduk dalam konflik yang berkepanjangan dengan Washington, terlepas dari tekanan yang diberikan.

Pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf saat melakukan pertemuan bilateral dengan pimpinan MPR RI. Ia menekankan bahwa Teheran selalu siap mempertahankan kedaulatan dan hak-hak rakyatnya setiap kali pihak Amerika Serikat dinilai mengkhianati kesepakatan yang telah dijalin sebelumnya.

Konflik fisik kedua negara kembali terjadi setelah adanya tuduhan dari Washington bahwa Iran menargetkan kapal komersial di perairan internasional. Sebagai balasan, Iran mengklaim telah meluncurkan serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal terhadap sejumlah aset militer AS di kawasan tersebut. Insiden ini terjadi hanya berselang tiga pekan pasca penandatanganan perjanjian gencatan senjata yang sempat digadang-gadang akan menuju perdamaian permanen.

Ghalibaf secara terbuka mengungkapkan rasa skeptisnya terhadap niat baik Amerika Serikat. Dalam komunikasi sebelumnya dengan Wakil Presiden AS JD Vance, ia menegaskan bahwa Iran tidak memiliki kepercayaan pada Washington dan menilai bahwa negosiasi dengan AS hanya bisa dilakukan oleh pihak yang siap menghadapi skenario perang.

Meski Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapannya untuk kembali melakukan negosiasi, ia juga menegaskan bahwa periode gencatan senjata saat ini telah berakhir. Di tengah ketidakpastian tersebut, delegasi mediator dari Qatar telah tiba di Teheran pada Jumat untuk melakukan upaya diplomatik intensif demi meredam potensi perang skala penuh di kawasan tersebut.