Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga membawa dampak finansial yang luar biasa di sektor kesehatan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa akumulasi beban biaya penanganan kesehatan akibat dampak buruk karhutla kini telah menembus angka Rp120 triliun. Angka yang sangat fantastis ini menjadi alarm keras bagi pemerintah dan pemangku kebijakan.

Tingginya biaya tersebut dipicu oleh lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, hingga penyakit kardiovaskular yang diderita masyarakat di wilayah terdampak kabut asap. Selain biaya pengobatan langsung di fasilitas kesehatan, beban ini juga mencakup penurunan produktivitas kerja dan hilangnya hari belajar bagi anak-anak sekolah akibat kualitas udara yang memburuk secara ekstrem.

Para ahli mendesak agar pemerintah daerah dan pusat tidak hanya fokus pada upaya pemadaman saat api sudah membesar. Sinergi lintas sektoral, mulai dari penegakan hukum yang tegas bagi pelaku pembakaran hutan hingga kesiapan fasilitas kesehatan di daerah rawan, mutlak diperlukan untuk menekan angka kerugian baik dari sisi ekonomi maupun kualitas hidup masyarakat.