Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) terus berkomitmen menciptakan ekosistem olahraga yang inklusif di tanah air. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas bertajuk "Berdaya" yang digelar di Kota Kediri, Jawa Timur.

Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Pembudayaan Olahraga Kemenpora RI, Rika Aninggar Fitriasari, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata pemerintah dalam mengimplementasikan Asta Cita keempat. Targetnya adalah membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat, unggul, dan berdaya saing, dengan merangkul seluruh lapisan masyarakat termasuk penyandang disabilitas.

Program "Berdaya" mengusung nilai-nilai penting seperti integritas, empati, responsif, dedikatif, adaptif, serta keyakinan kuat bahwa setiap individu memiliki potensi besar. Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat bertransformasi menjadi agen perubahan di daerah masing-masing, sekaligus menjadi motor penggerak serta inspirator bagi lingkungan sekitar.

Urgensi peningkatan olahraga bagi difabel ini diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat populasi disabilitas di Indonesia berkisar antara 8,5 hingga 9 persen. Namun, dari sekitar 22,9 juta penyandang disabilitas di tanah air, data Kemenpora mencatat baru 11,6 persen yang aktif berolahraga. Angka partisipasi yang masih minim ini menjadi tantangan besar dalam menjaring bibit-bibit atlet paralimpik potensial.

Ketua National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Kota Kediri, Nanda Mei Sholihah, mengapresiasi penunjukan wilayahnya sebagai pusat pelatihan ini. Meski demikian, ia mengakui sebaran informasi masih menjadi kendala utama, terutama bagi penyandang disabilitas di daerah terpencil. Hingga kini, NPCI Kota Kediri bahkan masih harus menerapkan metode jemput bola dari rumah ke rumah untuk menemukan bakat-bakat baru.

Melalui kolaborasi lintas sektor yang lebih erat, diharapkan akses terhadap olahraga disabilitas dapat semakin terbuka lebar. Upaya ini tidak hanya berorientasi pada pencarian prestasi atlet, melainkan juga demi mewujudkan kesetaraan dan peningkatan kualitas hidup bagi seluruh masyarakat berkebutuhan khusus.