Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) mempertegas komitmennya dalam membangun ekosistem olahraga yang inklusif dan berkeadilan. Salah satu langkah konkretnya diwujudkan melalui program Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas bertajuk "Berdaya" yang digelar di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Program ToT ini bukan sekadar pelatihan sertifikasi biasa, melainkan inisiasi strategis untuk melahirkan motor penggerak serta agen pembudayaan olahraga bagi penyandang disabilitas di tingkat akar rumput. Hal tersebut ditegaskan oleh Plt. Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus Kemenpora, Ahmad Arsani, saat membuka kegiatan tersebut di Hotel Fitra, Majalengka.

Arsani memaparkan bahwa peningkatan jumlah pelatih penggerak sangat penting untuk mendongkrak partisipasi olahraga di kalangan penyandang disabilitas. Pasalnya, dari total 22,9 juta jiwa penyandang disabilitas di Indonesia, saat ini baru 11,6 persen yang aktif berolahraga. Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan jumlah tenaga kepelatihan khusus disabilitas yang tercatat baru berjumlah 92 pelatih dari latar belakang National Paralympic Committee Indonesia (NPCI).

Untuk mengatasi masalah tersebut, program "Berdaya" dirancang secara terstruktur melalui empat fase berjenjang. Fase pertama yang dimulai April lalu berfokus pada pembentukan master trainer dari 30 atlet elite internasional. Fase kedua merupakan pelatihan intensif bagi pelatih lokal, diikuti fase ketiga berupa aktualisasi program ke komunitas, dan diakhiri fase keempat untuk monitoring serta evaluasi berkala.

Agenda ToT yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh 120 peserta dari wilayah Kabupaten Majalengka. Kemenpora menghadirkan para pakar kepelatihan olahraga adaptif dan akademisi untuk membekali peserta dengan materi komprehensif, mulai dari pemahaman olahraga adaptif, klasifikasi jenis hambatan, metode pelatihan ramah difabel, hingga teknik identifikasi bakat atlet sejak dini.