Kementerian Kesehatan RI menetapkan penanganan Tuberkulosis (TBC) sebagai prioritas utama nasional tahun ini. Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan bahwa pemerintah kini mengintensifkan program pelacakan atau tracing yang menyasar hingga 100 persen anggota keluarga serta kontak erat pasien untuk memutus rantai penularan di seluruh wilayah Indonesia.

Untuk mendukung target tersebut, Kemenkes telah menyiagakan 16.000 kader TBC yang akan menjangkau sekitar 80.000 desa, membentang dari Aceh hingga Papua. Inisiatif ini didukung oleh alokasi anggaran khusus guna memastikan efektivitas deteksi dini di tingkat akar rumput.

Selain program pelacakan, pemerintah berencana mengadopsi model penguatan layanan kesehatan primer seperti yang diterapkan di Tiongkok. Kemenkes berkomitmen memperlengkapi fasilitas Puskesmas dengan teknologi deteksi dini yang mumpuni, termasuk penyediaan perangkat X-Ray untuk memastikan diagnosis yang lebih akurat.

Wamenkes Benny turut menyoroti ancaman serius dari Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang dipicu oleh paparan polusi udara dan kebiasaan merokok. Ia menekankan bahwa penyakit ini bukan hanya menjadi tantangan bagi kesehatan individu, tetapi juga memberikan beban finansial yang signifikan bagi negara melalui pembiayaan pengobatan jangka panjang yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan.