Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini melahirkan fenomena baru di dunia industri kreatif dan komunikasi: kebangkitan para "solo agency" atau agensi mandiri. Sejumlah profesional senior yang sebelumnya menduduki jabatan tinggi di berbagai agensi global kini memilih membangun bisnis sendiri. Berbekal asisten digital berbasis AI, mereka mampu menjalankan operasional perusahaan secara efisien tanpa perlu merekrut tim besar atau staf junior.
Salah satu contohnya adalah David Ko, pendiri firma penasihat kepemimpinan Humantyze. Setelah tiga dekade berkarier di bidang hubungan masyarakat (humas) dan pemasaran digital, David mengotomatisasi hampir seluruh aspek operasional bisnisnya menggunakan sistem agen cerdas terintegrasi. Dengan platform seperti Gumloop, ia mengoordinasikan berbagai asisten virtual yang bertindak sebagai manajer penjualan, manajer keuangan, hingga kepala staf (Chief of Staff) digital.
Meski produktivitasnya meningkat tajam, David menegaskan bahwa keputusan strategis dan hubungan langsung dengan klien tetap menjadi porsi mutlak manusia. Asisten AI miliknya hanya bertugas menyusun draf dokumen, sementara proses penyuntingan akhir dan interaksi emosional tetap berada di bawah kendalinya. Hal ini membuktikan bahwa konteks bisnis dan budaya lokal masih menjadi wilayah yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi.
Senada dengan David, Simon Murphy yang mendirikan Indigo Murphy juga memanfaatkan platform AI seperti Copilot dan Perplexity untuk riset serta analisis data. Bagi Simon, perbedaan mendasar antara manusia dan AI terletak pada kesadaran perasaan (sentience). Dalam industri humas, kemampuan menyentuh emosi audiens dan membangun kepercayaan adalah hal yang paling krusial, sesuatu yang tidak bisa disintesis oleh algoritma.
Sementara itu, Anton Reyniers dari agensi Non Vanilla mengedepankan pentingnya penentuan masalah (problem definition) sejak awal. Ia menggunakan perangkat khusus bernama Brainwaves untuk mendukung proses berpikir strategis yang out-of-the-box. Menurutnya, AI sangat andal dalam mempercepat eksekusi dari suatu keputusan yang baik, namun teknologi tersebut tidak memiliki kapasitas untuk membuat keputusan itu sendiri secara mandiri.
Di sisi lain, pendekatan modular diadopsi oleh Gordan Domlija melalui konsultansi marketing ElucidateX. Alih-alih bertumpu pada satu platform, Gordan mengombinasikan berbagai alat seperti ChatGPT, Apollo, Claude, hingga Higgsfield untuk menciptakan alur kerja yang dinamis. Baginya, teknologi ini tidak menggantikan pengalaman profesional, melainkan mengganti model operasional konvensional yang dinilai sudah usang dan lambat.
Meski membawa dampak positif yang masif terhadap efisiensi, tren ini menyisakan kekhawatiran tersendiri bagi keberlangsungan industri. Samantha Strauss, pendiri Ginkgo Communications, menyoroti hilangnya ruang pelatihan bagi talenta muda. Selama ini, tugas-tugas administratif seperti kliping berita dan penyusunan rilis pers menjadi sarana belajar bagi staf pemula. Jika seluruh tugas tersebut kini dialihkan ke AI, industri terancam kehilangan ruang regenerasi praktisi masa depan.