Gelombang aksi jual melanda sektor teknologi di pasar saham Asia pada perdagangan Jumat. Tren negatif ini dipicu oleh kecemasan para investor terhadap tingginya belanja modal korporasi untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), yang kemudian merembet dari bursa Wall Street ke kawasan regional.

Di bursa Jepang, sejumlah saham raksasa teknologi mencatatkan penurunan signifikan. Saham SoftBank terperosok sebesar 9,2 persen, diikuti oleh produsen peralatan cip Tokyo Electron yang anjlok 9 persen, dan Advantest yang melemah 9,4 persen. Sementara itu, produsen memori Kioxia mengalami kejatuhan terdalam hingga lebih dari 14 persen setelah kalah dalam gugatan pelanggaran paten di pengadilan federal Texas. Di Korea Selatan, kendati bursa libur, saham SK Hynix telah lebih dulu terkoreksi lebih dari 11 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Kondisi serupa terjadi di Taiwan, di mana saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) menyusut 3,64 persen, meskipun raksasa cip tersebut baru saja melaporkan lonjakan laba bersih yang melampaui estimasi pasar. Di bursa Hong Kong, saham-saham teknologi papan atas China juga tertekan, termasuk Tencent yang melemah 1,3 persen, Meituan turun 2,4 persen, dan Kuaishou terpangkas 3,3 persen.

Sentimen negatif ini merupakan kelanjutan dari koreksi indeks Nasdaq di Amerika Serikat yang ditutup melemah 1,47 persen. Indeks ETF Semikonduktor VanEck merosot hampir 4 persen, diiringi kejatuhan saham-saham cip global seperti Arm Holdings, Micron Technology, Advanced Micro Devices (AMD), hingga Broadcom yang masing-masing merosot di atas 5 persen.

Meski TSMC telah menaikkan target belanja modalnya menjadi kisaran US$60 miliar hingga US$64 miliar, pasar tampaknya mulai mempertanyakan keberlanjutan investasi masif pada infrastruktur AI ini. Para analis menilai pergerakan ini lebih mencerminkan aksi ambil untung (profit-taking) setelah saham-saham AI mengalami reli panjang dalam beberapa bulan terakhir, bukan disebabkan oleh penurunan fundamental industri dalam jangka panjang.