Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Aisyiyah Kota Yogyakarta secara maraton menyelenggarakan program pendidikan manasik haji klasikal sepanjang tahun. Langkah ini diambil guna mematangkan kesiapan fisik, mental, serta pemahaman regulasi bagi calon jemaah haji yang dijadwalkan berangkat pada tahun 2027 dan 2028 mendatang.

Program bimbingan intensif ini terbagi ke dalam beberapa fase pertemuan strategis. Setelah diawali dengan pengenalan konsep manasik dasar dan pemantapan niat di Aula PWM DIY, para calon jemaah juga telah mendapatkan sesi berbagi pengalaman langsung dari jemaah haji kloter 2026. Pada pertemuan ketiga yang digelar di Masjid Islamic Centre Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kampus 4, fokus materi diarahkan pada aspek krusial: mitigasi kebencanaan dan istithaah kesehatan.

Ketua KBIHU Aisyiyah Kota Yogyakarta, Rowi Sutaryo, menekankan bahwa persiapan haji masa kini menuntut percepatan penyesuaian skema. Ia mengingatkan para calon tamu Allah untuk tidak hanya berfokus pada kesiapan finansial, tetapi juga dokumen administrasi seperti paspor dan visa, serta pemenuhan syarat kelayakan jasmani maupun rohani sejak dini.

Terkait potensi kendala di lapangan, Ketua Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, memaparkan pentingnya manajemen risiko perjalanan spiritual ini. Mengingat tantangan berat seperti suhu ekstrem di Arab Saudi, kepadatan massa di Arafah, hingga kerawanan kriminalitas, pemahaman mitigasi dinilai menjadi kunci utama untuk menekan risiko agar jemaah dapat beribadah secara aman dan meraih kemabruran.

Dari sudut pandang medis, drg. Rohadanti, MPH, perwakilan dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, menggarisbawahi bahwa kesehatan merupakan pilar mutlak dalam syarat istithaah. Berdasarkan evaluasi keberangkatan jemaah asal Kota Yogyakarta pada tahun 2026, tercatat mayoritas jemaah (572 orang) memerlukan pendampingan medis intensif, baik berupa pengawasan obat-obatan maupun alat bantu kesehatan, sementara hanya 160 jemaah yang dinyatakan sehat tanpa catatan khusus.

Meningkatnya angka kebutuhan pendampingan tersebut membuat Dinkes Yogyakarta mengimbau para calon jemaah untuk konsisten memantau kebugaran mereka secara mandiri, rutin mengonsumsi obat yang dianjurkan, membatasi aktivitas luar ruang yang tidak perlu selama di tanah suci, serta memastikan status kepesertaan jaminan kesehatan nasional tetap aktif hingga hari kepulangan.