Ancaman kejahatan siber yang semakin canggih memaksa pelaku usaha di Indonesia untuk memperketat proteksi data mereka. Menanggapi situasi ini, perusahaan keamanan global Kaspersky mengumpulkan lebih dari 70 pemimpin bisnis sektor menengah (mid-market) dalam forum khusus bertajuk "Kaspersky Secure: Live in Indonesia" di Jakarta untuk membahas strategi pertahanan digital yang efektif.

Perusahaan dengan skala 100 hingga 999 pekerja diidentifikasi sebagai kelompok yang sangat rentan. Pertumbuhan bisnis mereka yang pesat sering kali tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur keamanan teknologi informasi yang memadai, sehingga menjadi sasaran empuk bagi para peretas.

Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, Kaspersky memperkenalkan teknologi Managed Detection and Response (MDR). Layanan ini mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI), analisis ancaman mutakhir, serta pengawasan nonstop selama 24 jam dari para ahli di pusat operasi keamanan atau Security Operations Center (SOC).

Country Manager Kaspersky Indonesia, Defi Nofitra, menjelaskan bahwa para pelaku usaha kini harus mengubah paradigma mereka terkait keamanan digital. Perlindungan siber saat ini tidak lagi terbatas pada proteksi perangkat keras secara individu, melainkan menjadi pilar utama dalam menjaga keberlangsungan operasional bisnis saat menghadapi serangan.

Sistem MDR ini memanfaatkan AI untuk memilah dan menyaring gangguan sistem yang tidak berbahaya, sehingga tim ahli dapat fokus menangani ancaman yang benar-benar kritis. Pendekatan hibrida ini menawarkan efisiensi biaya yang signifikan bagi pelaku usaha, karena mereka tidak perlu lagi mengeluarkan anggaran besar untuk membangun tim keamanan siber internal secara mandiri.