Maskapai penerbangan nasional kini bersiap mengantisipasi potensi gangguan operasional akibat kabut asap yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fenomena musiman ini mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia, dengan titik konsentrasi paling rawan berada di Pulau Kalimantan.

Kondisi kabut asap tebal tersebut dikhawatirkan dapat menurunkan jarak pandang (visibility) secara drastis di area bandar udara. Hal ini sangat krusial karena batas pandang yang terbatas dapat mengganggu keamanan proses lepas landas (takeoff) maupun pendaratan (landing) pesawat terbang.

Sebagai langkah antisipasi, operator penerbangan terus meningkatkan koordinasi dengan otoritas bandara dan pihak meteorologi guna memantau perkembangan cuaca secara berkala. Prosedur mitigasi, termasuk kemungkinan penundaan jadwal atau pengalihan rute penerbangan, disiapkan demi menjaga keselamatan para penumpang.