Penguatan akses layanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu kembali menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten Jember. Melalui program inovatif bernama "Jember Cinta Kesehatan", Bupati Jember Muhammad Fawait berkomitmen menjangkau sedikitnya 10.000 penerima manfaat sepanjang tahun 2026 demi mewujudkan keadilan sosial di sektor kesehatan.

Program jaminan sosial ini resmi diluncurkan bertepatan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Jember. Acara peresmian tersebut dihadiri oleh ratusan peserta, termasuk keluarga besar kalangan santri setempat yang ikut menyaksikan inisiasi layanan medis terintegrasi ini.

Bupati yang akrab disapa Gus Fawait menjelaskan bahwa program ini dirancang khusus untuk mengatasi hambatan struktural yang dialami masyarakat miskin ekstrem. Menurutnya, fasilitas pengobatan gratis yang disediakan pemerintah daerah seringkali tidak terakses optimal karena kendala biaya transportasi dan operasional keluarga pasien selama menjalani perawatan.

Layanan baru ini hadir sebagai pelengkap sekaligus penguat dari kebijakan berobat gratis menggunakan KTP Jember yang telah berjalan sejak 1 April 2025. Terobosan ini melengkapi program kunjungan medis ke rumah (home care) yang sebelumnya telah mendapat apresiasi dari Kementerian Kesehatan karena pendekatannya yang proaktif dan menjangkau wilayah pelosok secara masif.

Menariknya, program bantuan medis ini tidak membatasi kepesertaan hanya bagi penduduk lokal Jember semata. Masyarakat dari luar kabupaten, wilayah Jawa Timur, hingga daerah lain di Indonesia yang membutuhkan penanganan medis tertentu juga dipersilakan mengakses program kemanusiaan ini.

Adapun cakupan pelayanan gratis yang disediakan meliputi tindakan operasi katarak, bibir sumbing, hernia, dan khitan. Selain itu, pihak pemerintah daerah juga menyediakan bantuan alat medis penunjang seperti alat bantu dengar, kacamata, serta protesa berupa kaki, tangan, dan mata palsu bagi yang membutuhkan.

Di sela-sela peluncuran program, Gus Fawait turut menitipkan pesan inspiratif kepada para santri untuk terus mengejar cita-cita tanpa kehilangan identitas moral mereka. Ia menegaskan bahwa lulusan pesantren memiliki peluang setara untuk berkarier di berbagai sektor strategis publik dengan tetap menjunjung tinggi etika kesantunan dalam berdemokrasi.