Kehadiran tiga unit armada terbaru milik PT Miyor Prima Abadi Transport yang menggunakan bodi besutan karoseri New Armada memicu nostalgia mendalam bagi pencinta transportasi di Sumatera Barat. Langkah operator bus asal Sawahlunto ini seolah membuka kembali lembaran sejarah kejayaan pabrikan karoseri asal Magelang tersebut, yang pernah mendominasi jalanan Ranah Minang sejak dekade 1980-an hingga awal tahun 2000-an.

Pada masa keemasannya, produk New Armada menjadi pilihan utama untuk berbagai jenis kendaraan niaga. Mulai dari bus mikro bersasis Mitsubishi 100 PS, bus medium untuk rute Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), hingga bus besar Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Salah satu model ikonik yang sangat akrab di telinga masyarakat Sumbar kala itu adalah bus mikro dengan pintu lipat otomatis dan emblem legendaris "PRONA" di bagian belakang.

Desain karoseri ini terus berevolusi seiring zaman. Setelah era bus mikro, muncul tren bus medium dengan desain "kapsul" berkaca lebar membulat yang sempat menjadi raja di rute Sumbar–Riau. Desain tersebut kemudian berganti dengan model "banteng" yang memiliki karakteristik kaca samping menurun menyerupai kursi bioskop, lengkap dengan stiker ikonik kampanye "Visit Indonesia Year 1990" bergambar siluet Candi Borobudur di kaca belakang.

Dominasi karoseri berlogo jangkar ini tidak hanya terbatas pada angkutan umum massal. Berbagai kendaraan operasional instansi pemerintah, bus kampus, hingga angkutan kota (angkot) berbasis Mitsubishi L300 dengan model New Elza juga merajai jalanan. Bahkan pada pertengahan 1990-an, Perusahaan Otobus (PO) Palapa yang melayani rute Padang–Jakarta turut mengandalkan bodi New Armada untuk memperkuat eksistensinya di jalur lintas Sumatra.

Kejayaan ini mulai menghadapi tantangan pasca-tahun 2000 seiring dengan menjamurnya karoseri lokal di Sumatra yang menawarkan jasa modifikasi serta replikasi model populer. Namun kini, di tengah geliat bisnis transportasi bus AKAP yang kembali bergairah, kehadiran unit premium PO Miyor dengan bodi New Armada memicu pertanyaan menarik: mampukah pabrikan legendaris asal Magelang ini merebut kembali mahkota kejayaannya di Sumatra Barat?