Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali diguncang oleh gelombang serangan udara besar-besaran dari militer Rusia pada Minggu (5/7/2026) malam. Insiden tragis tersebut merenggut nyawa sedikitnya 23 orang, dengan 15 korban tewas berada di dalam kota Kyiv dan delapan lainnya di kawasan penyangga ibu kota.

Angkatan Udara Ukraina mengungkapkan bahwa mereka tidak mampu mencegat satu pun dari 23 rudal balistik yang diluncurkan Rusia. Keterbatasan sistem pertahanan udara, khususnya kurangnya rudal pencegat canggih seperti Patriot, menjadi celah fatal yang dimanfaatkan Moskow untuk menargetkan kawasan permukiman penduduk.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengecam keras situasi ini sebagai ancaman serius bagi warga sipil. Ia menyoroti ironi ketidaksiapan dunia modern dalam meningkatkan produksi pertahanan untuk melindungi kehidupan masyarakat, sekaligus mendesak agar negara-negara sekutu segera memberikan respons konkret melalui KTT NATO yang akan berlangsung di Ankara, Turkiye.

Di lapangan, kondisi pascaserangan tampak memprihatinkan dengan sejumlah blok apartemen mengalami kerusakan struktural berat. Tim evakuasi yang dibantu oleh anjing pelacak dan alat berat masih terus berupaya menyisir reruntuhan bangunan, sementara para penyintas menghadapi trauma mendalam setelah terus-menerus hidup dalam bayang-bayang dentuman rudal selama empat tahun terakhir.

Rusia menyatakan bahwa serangan tersebut ditujukan pada fasilitas militer dan infrastruktur energi sebagai balasan atas aksi serupa yang dilakukan Ukraina terhadap wilayah Rusia. Meski demikian, eskalasi serangan balistik ini telah menciptakan urgensi diplomatik baru, di mana Zelensky dijadwalkan akan melakukan pertemuan krusial dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menuntut langkah pertahanan yang lebih tegas bagi keamanan Ukraina.