Akademisi dari Universitas Megarezky bersama Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia memperkenalkan inovasi teknologi tepat guna untuk mengoptimalkan produksi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) abon daging kuda di Desa Kayuloe Timur, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto. Langkah strategis ini ditujukan untuk memodernisasi rantai produksi sekaligus menyokong program penanganan stunting melalui pemanfaatan pangan lokal bergizi tinggi.

UMKM Jeka Abon Daging Kuda (UKM Panrita) yang dikelola oleh Angga Zulfikar sebelumnya mengandalkan metode manual dalam mengolah daging. Keterbatasan alat tersebut membuat proses pencacahan memakan waktu hingga satu jam dengan kapasitas produksi yang hanya berkisar 3–4 kilogram saja per minggu. Melalui dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun pendanaan 2025, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menghibahkan mesin pencabik otomatis dan alat penggoreng berbahan baja nirkarat (stainless steel) yang higienis.

Intervensi teknologi ini membawa efisiensi yang luar biasa pada dapur produksi mitra. Waktu pencacahan daging kini terpangkas hingga 70 persen, dari yang semula membutuhkan waktu hampir sejam kini selesai dalam 10 hingga 15 menit saja. Selain menghemat waktu, kapasitas produksi melonjak hingga 150 persen menjadi 8–10 kilogram per minggu dengan tingkat kematangan serta kehalusan serat daging yang jauh lebih seragam.

Ketua Tim PKM, Dr. apt. Nurhikma A, memaparkan bahwa optimalisasi olahan daging kuda berpotensi besar dalam menekan prevalensi stunting yang masih tinggi di Kabupaten Jeneponto. Bahan pangan khas daerah ini dipilih karena memiliki keunggulan berupa kandungan protein dan zat besi yang tinggi, namun dengan kadar lemak yang relatif lebih rendah dibanding daging sapi, sehingga sangat baik dikonsumsi oleh ibu hamil, menyusui, dan balita.

Program pemberdayaan ini juga menyentuh aspek non-teknis melalui pendampingan penyusunan standar operasional prosedur (SOP) higienitas, strategi branding, hingga pemasaran digital yang dipandu oleh Dr. Sri Prilmayanti Awaluddin. Di sisi lain, Dr. Iriyani Harun memimpin edukasi gizi secara langsung kepada masyarakat setempat bekerja sama dengan kader Posyandu dan PKK guna memastikan pemahaman pola asuh sehat dapat terus berlanjut di tingkat desa.

Kepala Desa Kayuloe Timur, H. Lelong Azis, mengapresiasi kehadiran program kemitraan ini. Ia menilai kontribusi perguruan tinggi tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan ekonomi pelaku usaha lokal, namun juga membuka wawasan baru bagi warga desa mengenai nilai gizi tinggi dari komoditas lokal yang selama ini belum disadari sepenuhnya.