Krisis air bersih yang kerap melanda Desa Pasi Birah, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat, kini mulai teratasi. Melalui kolaborasi erat antara warga setempat dengan Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil dan Tim Pelaksana Pengabdian berbasis Riset Universitas Teuku Umar (UTU), sebuah instalasi penyaringan air mandiri berhasil dibangun dan resmi beroperasi.
Sistem pengolahan air bersih terintegrasi ini memanfaatkan metode Pemanenan Air Hujan (PAH) dengan media filter berbahan lokal yang ekonomis dan ramah lingkungan. Tim inovator menggunakan kombinasi arang limbah batok kelapa untuk menyerap zat pencemar dan menghilangkan bau, dipadukan dengan batu karang yang berfungsi menyaring kotoran fisik sekaligus menyeimbangkan kualitas air secara alami.
Pembangunan infrastruktur air bersih yang berlangsung dari akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2026 ini dikerjakan secara gotong royong. Warga bersama civitas akademika UTU bahu-membahu memasang talang penangkap air di atap meunasah dan rumah warga, merangkai instalasi pipa, hingga merakit wadah penyaringan. Sebagai langkah edukasi berkelanjutan, warga juga dibekali buku panduan serta pelatihan pemeliharaan berkala agar fasilitas ini dapat dirawat secara mandiri.
Guna menjamin mutu air secara konsisten, tim peneliti UTU tengah menyiapkan pengembangan sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT). Dengan teknologi ini, tingkat keasaman (pH) dan kekeruhan air dapat dipantau secara langsung (real-time) melalui sensor pintar yang terhubung ke dasbor digital. Langkah inovatif ini diharapkan dapat mempermudah evaluasi berkala dan memastikan air yang dikonsumsi masyarakat selalu aman dan layak pakai.