PALANGKA RAYA – Tim mahasiswa Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Palangka Raya (UPR) berhasil menciptakan inovasi medis berbasis kekayaan alam lokal. Lewat Tim Cordinamic, para peneliti muda ini memanfaatkan zat aktif dari tanaman Dawen Sawang Bahandang (Cordyline fruticosa) yang diracik menjadi sediaan nanogel untuk terapi infeksi jaringan kulit dan lunak.

Inovasi ini diinisiasi oleh Herlita Esra Sari Sihotang bersama timnya dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE). Pengolahan tanaman obat tradisional khas Kalimantan tersebut ditujukan untuk menghadirkan pengobatan topikal yang lebih efektif dalam melawan infeksi akibat bakteri Staphylococcus aureus dan jamur Candida albicans, sekaligus menjawab tantangan resistensi antibiotik yang marak terjadi.

Ketua tim riset, Herlita Esra Sari Sihotang, menjelaskan bahwa keunggulan sediaan nanogel ini terletak pada daya tembus zat aktifnya. Dengan memperkecil ukuran partikel bioaktif ke skala nano memanfaatkan teknologi gelasi ionik kitosan-NaTPP, obat dapat meresap lebih cepat dan dalam ke lapisan kulit. Mekanisme ini membuat pelepasan senyawa aktif terjadi secara bertahap sehingga daya kerja obat di area infeksi bertahan lebih lama.

Rangkaian riset yang berjalan selama kurang lebih empat bulan di laboratorium tersebut mencakup ekstraksi bahan, formulasi sediaan, pengujian karakteristik fisik, hingga uji aktivitas antimikroba dan toksisitas dermal. Hasil evaluasi laboratorium mencatat bahwa formula terbaik yang dikembangkan terbukti aman digunakan pada kulit serta memiliki kemampuan signifikan dalam menekan pertumbuhan mikroorganisme patogen.

Melalui terobosan ini, mahasiswa UPR berharap pemanfaatan keanekaragaman hayati Kalimantan dapat terus diangkat ke tingkat sains modern. Inovasi nanogel Dawen Sawang Bahandang ini tak hanya diharapkan menjadi rujukan riset kefarmasian berbasis bahan alam di Indonesia, tetapi juga mampu menjadi solusi medis yang terjangkau dan berkhasiat bagi masyarakat.