Menjawab tantangan transisi energi bersih di Indonesia, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Bambang Arip Dwiyantoro, mengembangkan inovasi bertajuk Integrated Sustainable Solar Energy System. Teknologi energi surya terintegrasi ini dirancang khusus guna memacu efisiensi pembangkitan listrik nasional secara berkelanjutan.

Gagasan ini dipaparkan dalam orasi ilmiahnya yang menekankan pentingnya optimalisasi teknologi panel surya dan Solar Chimney sebagai investasi jangka panjang demi kemandirian energi bangsa. Menurut Bambang, pengembangan energi baru terbarukan bukan sekadar mengadopsi teknologi mutakhir, melainkan langkah strategis demi masa depan Indonesia yang lebih mandiri secara energi.

Salah satu pilar inovasi ini adalah pengembangan Solar Chimney Power Plant (SCPP), sistem pembangkit yang mengandalkan panas matahari untuk menciptakan aliran udara alami guna memutar turbin. Lewat pemodelan eksperimental berbasis simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD), rekayasa desain cerobong dan penyerap panas (absorber) garapannya terbukti mampu mendongkrak produksi daya listrik hingga lebih dari 750 persen dibanding model konvensional.

Peningkatan performa yang sangat signifikan ini menunjukkan bahwa efisiensi pembangkitan tidak melulu soal memperbesar ukuran fisik sistem. Melalui inovasi desain yang lebih efektif, teknologi pembangkit listrik tenaga surya ini dapat diterapkan secara sederhana, ekonomis, serta sangat adaptif dengan karakteristik wilayah kepulauan Indonesia.

Tak hanya itu, riset ini juga menghadirkan sistem pendingin pasif panel surya yang memanfaatkan limbah biomassa seperti serat kelapa sawit dan ampas tebu. Inovasi ramah lingkungan ini berhasil menjaga kestabilan suhu operasional panel tanpa mengonsumsi daya listrik tambahan, sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan meningkatkan nilai guna limbah pertanian lokal.

Seluruh terobosan tersebut, yang juga mencakup teknologi pelacak surya (solar tracking) terapung dan pengelolaan daya hibrida terintegrasi, diproyeksikan untuk terus berkembang. Ke depan, integrasi penyimpanan energi termal dan kecerdasan buatan (AI) akan diterapkan guna mempercepat transisi Indonesia menuju ekosistem energi bersih yang lebih tangguh dan berkelanjutan.