Raksasa teknologi pesawat nirawak, DJI, mencatatkan terobosan signifikan di Gunung Everest melalui serangkaian misi yang memadukan teknologi pengiriman logistik, pemetaan presisi, dan penelitian ilmiah. Dalam pengujian di lereng ekstrem tersebut, perusahaan mengerahkan unit DJI FlyCart 100 dan Matrice 4E untuk menjawab tantangan logistik yang selama ini mengandalkan tenaga manusia di medan berbahaya.

Salah satu pencapaian paling krusial adalah efisiensi pengiriman logistik. Penggunaan DJI FlyCart 100 berhasil mengangkut total 10.073 kilogram perlengkapan pendakian dan limbah antara Base Camp dan Camp 1. Teknologi ini memangkas waktu tempuh yang biasanya memakan waktu hingga delapan jam perjalanan kaki di area berbahaya Khumbu Icefall menjadi hanya delapan menit per penerbangan satu arah. Langkah ini diproyeksikan akan menjadi tulang punggung bagi upaya konservasi gunung serta mendukung ambisi 'Zero Waste Initiative 2027' di Nepal.

Di bidang keselamatan, DJI Matrice 4E memainkan peran vital dalam memetakan area gletser dengan tingkat ketelitian sentimeter. Beroperasi pada suhu di bawah minus 20 derajat Celsius, drone ini mampu memetakan tiga kilometer persegi area Khumbu Icefall hanya dalam waktu 3,5 jam. Data yang dihasilkan memungkinkan tim ekspedisi untuk merencanakan rute yang lebih aman serta mendeteksi potensi bahaya secara real-time, yang berfungsi sebagai instrumen perlindungan bagi para pendaki.

Selain logistik dan navigasi, DJI turut mendorong kemajuan riset iklim melalui penggunaan drone eVTOL DJI EV50. Dalam kolaborasi bersama Peking University, drone ini berhasil mencapai ketinggian 8.861 meter untuk melakukan observasi kimia atmosfer di troposfer. Inovasi ini memberikan akses data lingkungan yang sebelumnya sangat sulit dijangkau, sekaligus mempertegas komitmen DJI dalam memanfaatkan teknologi untuk tujuan keberlanjutan global dan perlindungan ekosistem pegunungan.