Kelompok usaha perempuan Cumi Gemilang yang berbasis di Desa Langgula, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, kini tengah menapaki babak baru dalam pengembangan bisnis mereka. Melalui program pengabdian masyarakat bertajuk pemberdayaan perempuan berbasis kemitraan komunitas, kelompok yang digerakkan oleh para ibu rumah tangga ini optimistis mampu meningkatkan skala usaha olahan pangan lokal mereka.
Program pembinaan intensif ini diinisiasi oleh tim akademisi lintas universitas yang dipimpin oleh Muhammad Ibrahim dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Kolaborasi ini juga diperkuat oleh Endah Setiyowati dari UNG dan Andi Muttia Yunita Mentari Sayuti dari Universitas Mulawarman, dengan melibatkan aktif para mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat UNG.
Untuk memetakan kendala konkret yang dihadapi di lapangan, tim pelaksana telah menggelar serangkaian kegiatan, mulai dari sosialisasi awal hingga diskusi kelompok terpumpun (FGD) bersama perangkat desa dan para pelaku usaha. Puncak dari program pendampingan ini diwujudkan lewat lokakarya peningkatan kapasitas selama dua hari yang diikuti oleh puluhan perempuan pelaku usaha setempat.
Ketua Tim Pengabdian, Muhammad Ibrahim, menjelaskan bahwa meski kelompok usaha ini telah memiliki kemasan dan jenama sendiri sejak berdiri pada tahun 2023, mereka masih kerap menghadapi kendala pada aspek tata kelola bisnis, standarisasi mutu, serta strategi pemasaran. Oleh karena itu, inkubasi ini dirancang secara komprehensif untuk menjawab tantangan manajemen hingga adaptasi pemasaran digital.
Guna menunjang efektivitas produksi secara nyata, tim pengabdi juga menyalurkan berbagai alat penunjang produksi modern yang lebih higienis. Bantuan teknologi tepat guna tersebut meliputi mesin pengemas hampa udara (vacuum sealer), alat pengering, mesin suwir daging, hingga mesin pencetak kerupuk berkapasitas besar untuk menggantikan metode manual.
Ketua Kelompok UMKM Cumi Gemilang, Farida Y. Irigisa, menyambut baik adanya pendampingan ini. Menurutnya, keterbatasan alat kerja tradisional dan pola pemasaran konvensional yang selama ini mereka terapkan kerap membatasi kapasitas produksi. Hadirnya peralatan baru dan bekal pengetahuan manajemen diharapkan mampu meningkatkan volume serta mutu olahan cumi mereka.
Inisiatif pemberdayaan ini didanai melalui skema hibah BIMA dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Langkah nyata ini diharapkan tidak hanya mendongkrak pendapatan domestik keluarga, namun juga mendukung ketercapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), utamanya terkait pengentasan kemiskinan dan penguatan kesetaraan gender di tingkat desa.