Pemerintah Indonesia secara resmi mulai melakukan penjajakan kerja sama strategis di bidang teknologi dengan India, dengan fokus utama pada pemurnian logam tanah jarang (rare earth). Inisiatif ini disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Satryo Soemantri Brodjonegoro, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (7/7).

Kerja sama ini dirancang tidak hanya untuk sekadar pengolahan bahan mentah, tetapi juga sebagai langkah konkret dalam membangun ekosistem industri magnet di Indonesia. Dalam upaya tersebut, pemerintah menggandeng perusahaan asal India, Midwest, serta melibatkan peran aktif dari Perminas dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Mendikti Saintek menjelaskan bahwa komunikasi intensif telah berlangsung melalui berbagai kunjungan delegasi Indonesia ke India. Langkah ini diambil karena India dinilai memiliki keunggulan teknis dalam proses pemurnian logam tanah jarang yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan industri teknologi tinggi.

Selain transfer teknologi pemurnian, pihak India juga telah memberikan penawaran komprehensif terkait penyediaan teknologi yang diperlukan untuk mendukung pendirian pabrik industri magnet di dalam negeri. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian industri strategis Indonesia dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam yang melimpah.