Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan komitmen penuh dalam mengawal pengembangan vaksin mRNA untuk penyakit demam berdarah dengue (DBD). Proyek ambisius ini diproyeksikan bakal mencetak sejarah sebagai vaksin mRNA pertama di dunia yang dikembangkan khusus untuk memerangi virus dengue, sebuah langkah terobosan yang diharapkan mampu memberikan dampak kesehatan secara global.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa pengalaman klinis tenaga medis Indonesia dalam menangani pasien DBD menjadi aset strategis dalam penelitian ini. Menurutnya, besarnya jumlah kasus di dalam negeri memberikan data lapangan yang sangat berharga bagi para peneliti, yang kemudian diintegrasikan dalam kolaborasi riset antara Tsinghua University dan Universitas Indonesia bersama Etana Biotechnologies Indonesia.

Meskipun saat ini vaksin tersebut masih berada pada tahap uji praklinis, hasil awal yang ditunjukkan cukup menjanjikan. Beti Ernawati Dewi, selaku pemimpin penelitian, mengungkapkan bahwa titer antibodi yang dihasilkan dalam uji coba tahap awal mampu menetralisasi strain virus DBD yang dominan di Indonesia dengan performa yang lebih unggul dibandingkan vaksin komersial yang telah tersedia saat ini.

Sebagai langkah lanjut, tim peneliti menargetkan untuk memulai pengujian efikasi pada subjek manusia dalam enam bulan ke depan. BPOM berkomitmen untuk tidak sekadar berperan sebagai regulator di akhir proses, melainkan terlibat aktif sejak awal pendampingan agar setiap tahapan pengembangan tetap memenuhi standar keamanan, efektivitas, dan mutu yang ketat tanpa menghambat lahirnya inovasi medis.