Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan langkah strategis guna mengantisipasi dampak fenomena iklim El Nino berkategori kuat yang diproyeksikan melanda Indonesia hingga awal tahun 2027. Langkah antisipatif ini diambil menyusul peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi kemarau yang jauh lebih kering dan ekstrem.
Merespons ancaman krisis air bersih tersebut, Kepala BRIN Arif Satria telah berkoordinasi langsung dengan Presiden Prabowo Subianto untuk membahas kesiapan teknologi mitigasi bencana nasional. Pemerintah berkomitmen penuh untuk menjaga ketahanan air di berbagai wilayah terdampak melalui penerapan riset terapan.
Salah satu teknologi yang dioptimalkan adalah penyempurnaan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) agar proses penyemaian awan hujan menjadi lebih presisi dan efektif. Selain itu, BRIN juga memperluas penerapan desalinasi air laut yang kini telah sukses diimplementasikan di 40 kawasan pesisir guna membantu masyarakat kepulauan mendapatkan akses air bersih.
Inovasi lain yang menjadi andalan adalah teknologi Air Siap Minum (Arsinum), yang mampu mengolah air limbah, air payau, hingga air banjir menjadi air konsumsi yang aman. Keandalan teknologi ini bahkan telah diuji langsung oleh Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran menteri kabinet saat demonstrasi teknologi di Istana Kepresidenan.
Sebagai solusi jangka panjang, BRIN kini tengah memetakan potensi sungai bawah tanah di berbagai penjuru tanah air atas instruksi langsung dari kepala negara. Sinergi riset dan kebijakan taktis ini diharapkan mampu meminimalkan dampak buruk kekeringan ekstrem demi menjaga kelangsungan hidup masyarakat luas.