Perubahan struktural tengah melanda industri seluler global seiring dengan meningkatnya minat pasar terhadap ponsel lipat (foldable phone). International Data Corporation (IDC) memproyeksikan pengapalan ponsel lipat akan tumbuh hampir 30 persen pada tahun 2026, sementara pasar ponsel konvensional justru diperkirakan mengalami koreksi sebesar 1,4 persen.

Momentum pertumbuhan ini dipicu oleh beberapa faktor utama, termasuk kelangkaan cip memori yang mengerek harga komponen hingga 20 persen. Produsen pun mulai mengalihkan fokus ke segmen premium demi mengamankan margin keuntungan yang lebih besar. Selain itu, rencana masuknya Apple ke pasar ponsel lipat pada akhir tahun 2026 diyakini akan menjadi katalis utama yang semakin mempercepat adopsi teknologi ini.

Kendati demikian, tantangan tetap membayangi industri ini. Dalam skenario terburuk, pasar ponsel global berisiko menyusut hingga 5 persen jika konsumen memilih menunda peningkatan perangkat mereka. Bagi Indonesia, sebagai salah satu pasar ponsel terbesar di Asia Tenggara, dinamika ini membawa dampak ganda yang memerlukan antisipasi matang dari para pelaku industri dan pemangku kebijakan.

Di satu sisi, pergeseran ke segmen premium membuka peluang bagi rantai pasok komponen lokal serta distributor dalam negeri. Namun di sisi lain, lonjakan harga perangkat berpotensi memperlebar jurang akses teknologi di tengah pemulihan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya stabil. Masuknya lini produk lipat dari Apple di masa mendatang diperkirakan tetap akan memikat segmen menengah ke atas, sekaligus mendorong lembaga pembiayaan untuk memperluas opsi kredit elektronik di tanah air.