Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) telah menciptakan efek domino yang serius bagi perekonomian lokal di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Tidak hanya menyasar sektor ketenagakerjaan, kelesuan ini kini merambah ke sektor bisnis penyewaan hunian yang selama ini menggantungkan nasib pada arus migrasi pekerja.

Berdasarkan data dari Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) setempat, sekitar 1.800 karyawan telah diputus hubungan kerjanya dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Dengan tersisa sekitar 6.000 pekerja, penurunan drastis jumlah penghuni di kawasan penyangga, seperti Desa Bunta, Kecamatan Petasia Timur, menjadi pemandangan yang tak terelakkan.

Aris Okking (43), salah seorang pelaku bisnis rumah kos di kawasan tersebut, mengaku terhimpit oleh situasi sulit. Minimnya tingkat okupansi kamar berbenturan dengan kewajiban angsuran kredit bank yang harus tetap diselesaikan. Menurutnya, hilangnya pendapatan dari para pekerja yang pulang kampung menjadi pukulan telak bagi keberlangsungan usahanya.

Kondisi serupa dirasakan oleh Feronica (34), pengusaha kos-kosan lainnya. Ia mengenang masa keemasan operasional PT GNI, di mana permintaan kamar sewa selalu melampaui ketersediaan. Saat ini, sebagian kamarnya terpaksa dibiarkan kosong karena tidak adanya penyewa.

Di tengah ketidakpastian ini, para pelaku usaha kecil di sekitar kawasan industri hanya bisa berharap agar operasional perusahaan dapat segera stabil dan pulih kembali. Pemulihan performa PT GNI dipandang sebagai kunci utama untuk menghidupkan kembali perputaran roda ekonomi masyarakat yang saat ini tengah terpuruk.