Sektor teknologi dalam negeri kini tengah diuji oleh ketidakpastian kondisi ekonomi global sepanjang tahun 2026. Analis Sucor Sekuritas, Dicky Susilo Adi, menyoroti bahwa kombinasi kenaikan harga minyak, suku bunga global yang tetap tinggi, serta lonjakan harga chip memori akibat tren kecerdasan buatan (AI) menjadi beban utama bagi perusahaan teknologi yang bergantung pada impor perangkat keras.

Meskipun Sucor Sekuritas merevisi turun target harga saham PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) menjadi Rp560 dan PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI) menjadi Rp1.450, rekomendasi beli tetap dipertahankan. Kebijakan ini diambil lantaran valuasi pasar saat ini dinilai telah merefleksikan berbagai risiko makro yang ada, termasuk kenaikan biaya modal dan tekanan margin akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kenaikan harga komponen memori, seperti proyeksi lonjakan harga DRAM sebesar 125 persen dan NAND hingga 234 persen, memaksa emiten melakukan penyesuaian biaya. Hal ini memberikan tekanan langsung pada margin laba kotor, terutama bagi perusahaan dengan struktur bisnis yang didominasi oleh pengadaan perangkat keras. Akibatnya, estimasi laba kedua emiten tersebut dipangkas antara 6 hingga 12 persen untuk periode 2026-2027.

Kendati demikian, prospek jangka panjang sektor ini dipandang masih cukup resilien. MTDL dinilai memiliki keunggulan kompetitif berkat diversifikasi pendapatan yang lebih luas pada layanan konsultasi dan solusi TI. Sementara itu, MSTI tetap menawarkan daya tarik melalui potensi imbal hasil dividen, meski investor perlu bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan MTDL.

Dicky menegaskan bahwa posisi neraca keuangan yang kuat serta peranan penting sektor teknologi dalam transformasi digital nasional, layanan cloud, dan infrastruktur AI menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan bisnis kedua perusahaan di tengah tekanan ekonomi yang terjadi saat ini.