Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tengah menghadapi guncangan politik internal yang hebat. Kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino, kini terancam oleh aksi boikot dari Uni Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dan sejumlah federasi nasional akibat rencana komersialisasi turnamen utama yang kontroversial.
Akar permasalahan ini bermula dari rencana FIFA untuk mendirikan Fifa Forward Enterprise (FFE). Anak perusahaan komersial tersebut dirancang untuk mengelola hak penyelenggaraan ajang bergengsi, termasuk Piala Dunia, dengan melibatkan investor swasta eksternal. Langkah ini dinilai UEFA melanggar prinsip tata kelola organisasi yang baik, sehingga memicu ancaman gugatan hukum serta arbitrase.
Eskalasi konflik ini berdampak langsung pada peta politik menjelang pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret mendatang. Sejumlah asosiasi sepak bola terkemuka, seperti Inggris, Wales, Swedia, Serbia, dan Finlandia, secara resmi telah menarik dukungan mereka dari Infantino. Kendati demikian, pria berusia 56 tahun tersebut dilaporkan masih memegang basis dukungan dari wilayah Afrika, Asia, serta Amerika Selatan.
Wakil Presiden UEFA, Laura McAllister, menegaskan bahwa langkah hukum yang tengah dipertimbangkan merupakan respons tegas terhadap buruknya sistem pertanggungjawaban di tubuh organisasi sepak bola dunia tersebut. Ia mendesak adanya reformasi menyeluruh dan berharap federasi lain turut menarik dukungan demi terwujudnya perubahan kepemimpinan.
Di sisi lain, para analis menilai taktik non-kooperasi ini dirancang untuk mengisolasi posisi Infantino. Jika tekanan dari kubu UEFA dan Concacaf belum cukup untuk mendesak mundur petahana, kelompok oposisi diprediksi akan memperluas lobi politik mereka ke kawasan Asia yang kini menjadi wilayah perebutan suara paling krusial.