Sektor dunia usaha di Jepang tengah menghadapi tekanan hebat setelah catatan kebangkrutan mencapai angka 5.346 kasus selama semester pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan Tokyo Shoko Research, angka ini menandai peningkatan sebesar 7,1 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu, sekaligus mencatatkan rekor tertinggi dalam kurun waktu 12 tahun terakhir.

Para analis memprediksi bahwa tren negatif ini berpotensi berlanjut hingga musim gugur mendatang. Faktor utama yang memperburuk situasi adalah krisis tenaga kerja yang berkepanjangan serta penurunan volume penjualan yang secara signifikan menggerus arus kas operasional perusahaan, terutama bagi skala usaha kecil dan menengah.

Data riset menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan baku dan operasional memicu 439 kasus kebangkrutan, sementara tantangan dalam mencari tenaga kerja menyebabkan 237 entitas bisnis harus gulung tikar. Bahkan, biaya tenaga kerja yang melambung tinggi tercatat naik hingga 2,4 kali lipat, menjadi salah satu kontributor utama dalam kegagalan finansial perusahaan di berbagai sektor.

Secara sektoral, kebangkrutan meluas di delapan dari sepuluh lini industri. Sektor jasa mencatat jumlah tertinggi dengan 1.819 kasus, disusul oleh sektor konstruksi dengan 1.026 kasus. Fenomena ini merata hampir di seluruh wilayah Jepang, dengan kenaikan paling signifikan terjadi di wilayah Hokuriku dan Hokkaido, yang menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi kini telah menjadi tantangan berskala nasional.