Raksasa barang konsumen multinasional, Unilever, tengah melakukan transformasi bisnis besar-besaran dengan mengurangi portofolio makanan mereka. Langkah strategis ini diambil guna memusatkan fokus pada lini produk kecantikan, perawatan tubuh, serta kebutuhan rumah tangga, demi mendongkrak valuasi perusahaan di pasar saham agar sejajar dengan kompetitor utamanya seperti Procter & Gamble (P&G) dan L'Oreal.

Upaya penyederhanaan bisnis ini dipicu oleh kesenjangan valuasi Unilever dibandingkan para pesaingnya. Berdasarkan data LSEG, rasio valuasi Unilever saat ini berada pada angka 11,5 kali enterprise value terhadap laba inti. Angka tersebut tertinggal cukup jauh dari P&G yang mencatat 14,8 kali, L'Oreal dengan 17,5 kali, serta Coca-Cola yang mencapai 22,7 kali.

Di bawah kepemimpinan CEO Fernando Fernandez, Unilever mempercepat pelepasan bisnis makanan, termasuk pemisahan divisi es krim. Pada Maret 2026, Unilever menyepakati penggabungan unit bisnis makanannya dengan produsen bumbu asal Amerika Serikat, McCormick, dalam transaksi senilai US$65 miliar. Melalui kesepakatan ini, Unilever akan memegang sekitar 10 persen saham di entitas baru tersebut, sementara pemegang saham Unilever secara kolektif menguasai 55 persen kepemilikan.

Kendati demikian, langkah ini bukan tanpa risiko. Divisi makanan selama ini menyumbang margin keuntungan yang relatif tinggi bagi perusahaan. Pasar kini menanti bukti apakah transisi ke sektor kecantikan dan perawatan rumah tangga mampu menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat untuk menutup hilangnya kontribusi dari bisnis kuliner tersebut. Sejumlah manajer investasi menekankan bahwa Unilever memerlukan pembuktian pertumbuhan volume yang solid selama beberapa kuartal berturut-turut untuk meyakinkan pasar.

Strategi yang diambil Unilever ini menyerupai pola sukses P&G di masa lalu saat mereka melepas lini bisnis makanan untuk fokus pada produk perawatan. Menurut para analis industri, pasar saat ini lebih menyukai perusahaan dengan portofolio yang terfokus karena dianggap lebih efisien dalam alokasi anggaran serta mampu berinovasi lebih cepat dibanding model bisnis konglomerasi dengan diversifikasi luas.

Meski kinerja operasional Unilever mulai menunjukkan perbaikan dengan volume penjualan yang meningkat pada pertengahan 2026, kekhawatiran pelaku pasar belum sepenuhnya mereda. Investor masih dibayangi lambatnya pertumbuhan sektor makanan yang tersisa lewat kepemilikan saham di entitas hasil merger dengan McCormick. Namun, manajemen Unilever optimistis bahwa konsistensi kinerja keuangan di kuartal-kuartal mendatang akan secara bertahap merefleksikan nilai strategis baru perusahaan di mata publik.