Insiden pecahnya kaca di gedung Badan Gizi Nasional (BGN) yang sempat mengundang perhatian publik akhirnya menemui titik terang. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Reynold EP Hutagalung, menyatakan bahwa peristiwa tersebut dipicu oleh faktor alam, yakni fenomena pemuaian material kaca akibat perbedaan suhu yang mencolok antara area luar yang panas dan suhu ruangan yang dingin akibat pendingin udara (AC).
Hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan bahwa kejadian ini bukanlah hal baru bagi pengelola gedung. Berdasarkan keterangan pihak manajemen yang diwakili oleh Martin, insiden serupa kerap terjadi saat musim kemarau dengan intensitas satu hingga dua kali dalam setahun. Karakteristik material bangunan tersebut diduga cukup sensitif terhadap perubahan suhu ekstrem yang terjadi secara mendadak.
Meski telah dipastikan akibat faktor teknis, aparat kepolisian sempat melakukan prosedur standar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk memastikan tidak ada unsur kesengajaan atau gangguan keamanan. Hingga Kamis (9/7/2026) siang, area sekitar serpihan kaca telah dipasangi garis polisi sebagai langkah antisipasi keselamatan bagi orang-orang yang berada di sekitar gedung.
Tim INAFIS pun turut diterjunkan ke lokasi guna melakukan observasi menyeluruh terhadap struktur bangunan. Hingga saat ini, situasi di kantor BGN terpantau kondusif dan aktivitas di sekitar lokasi terus dipantau oleh petugas kepolisian yang berjaga di depan gedung.