PT Moya Indonesia, entitas bisnis penyedia air bersih di bawah naungan Grup Salim, bersiap menghimpun dana segar senilai Rp2 triliun melalui penerbitan obligasi dan sukuk. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat struktur permodalan anak perusahaan sekaligus melakukan pembiayaan kembali (refinancing) atas utang perbankan yang digunakan dalam proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Berdasarkan prospektus resmi, perseroan menawarkan Obligasi I Moya Indonesia Tahun 2026 dengan nilai pokok maksimal Rp1 triliun. Instrumen ini dibagi menjadi tiga seri dengan tingkat kupon bervariasi, yaitu Seri A bertenor tiga tahun dengan kupon 8,50%, Seri B lima tahun dengan bunga 8,75%, dan Seri C tujuh tahun dengan bunga 9,00%. Dari target tersebut, sebesar Rp424,8 miliar telah mendapatkan komitmen penuh (full commitment), sedangkan sisanya ditawarkan dengan komitmen terbaik (best effort). Pencatatan di Bursa Efek Indonesia ditargetkan terlaksana pada 15 Juli 2026.

Selain obligasi konvensional, Moya Indonesia juga meluncurkan Sukuk Wakalah I senilai maksimal Rp1 triliun. Sukuk ini diterbitkan dalam tiga seri dengan target imbal hasil ekuivalen masing-masing 8,50%, 8,75%, dan 9,00% sesuai dengan tenornya. Dana komitmen penuh untuk instrumen syariah ini telah terkumpul sebesar Rp156,2 miliar, sementara sisanya dipasarkan menggunakan skema best effort.

Seluruh dana bersih hasil emisi ini akan dialokasikan untuk menyokong kebutuhan finansial dua anak usahanya. Alokasi pertama sebesar Rp202,40 miliar dari obligasi beserta seluruh dana bersih hasil sukuk akan disuntikkan sebagai tambahan modal ke PT Moya Tangerang (MT). Dana gabungan ini akan digunakan sepenuhnya untuk menggantikan fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) yang sebelumnya mendanai pembangunan infrastruktur SPAM.

Alokasi kedua sebesar Rp217,03 miliar dari sisa dana obligasi akan disalurkan ke PT Aetra Air Tangerang (AAT) guna melunasi pokok pinjaman fasilitas kredit investasi. Langkah ini diharapkan mampu merestrukturisasi kewajiban finansial di tingkat anak usaha agar menjadi lebih sehat. Dalam aksi korporasi ini, Pefindo memberikan peringkat idAA- untuk obligasi dan idAA-(sy) untuk sukuk, mencerminkan kemampuan finansial perseroan yang sangat kokoh.

Langkah refinancing ini sejalan dengan prospek pasar air minum perpipaan domestik yang masih terbuka lebar. Merujuk data Kementerian Pekerjaan Umum, cakupan akses air minum nasional baru menyentuh angka 30,12% pada 2024. Dengan target ambisius pemerintah mencapai 100% pada 2045, Moya Indonesia yang saat ini menguasai sekitar 13,28% kapasitas terpasang nasional lewat kemitraan dengan PDAM optimistis dapat menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang tersebut.