Sektor telekomunikasi seluler di kawasan Asia Pasifik diproyeksikan akan memberikan kontribusi ekonomi yang sangat signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Menurut laporan terbaru 'Mobile Economy Asia Pacific 2026' yang dirilis oleh GSMA di Kuala Lumpur, Malaysia, kontribusi industri ini diperkirakan mencapai US$1,4 triliun (sekitar Rp21.700 triliun) pada tahun 2030. Angka ini menandai lonjakan sebesar 40 persen dibandingkan dengan nilai kontribusi pada tahun 2025 yang berkisar di angka US$1 triliun.
Pertumbuhan pesat ini tidak lagi sekadar ditopang oleh perluasan akses internet dasar, melainkan dipicu oleh akselerasi teknologi mutakhir. Integrasi jaringan generasi kelima (5G), kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), serta layanan komputasi awan (cloud) menjadi motor utama yang mentransformasi lanskap digital di kawasan. GSMA mencatat bahwa jaringan seluler kini telah bermutasi menjadi fondasi krusial bagi penerapan AI dan penyediaan sistem komunikasi yang lebih tangguh.
Sektor 5G diprediksi akan mendominasi pasar dengan perkiraan mencapai 1,5 s/d 1,5 miliar koneksi pada tahun 2030, atau setara dengan setengah dari total koneksi seluler di Asia Pasifik. Untuk merealisasikan potensi ini, para operator telekomunikasi di kawasan bersiap menggelontorkan belanja modal (CapEx) fantastis melebihi US$200 miliar selama periode 2025 hingga 2030. Investasi masif ini difokuskan pada penguatan kapasitas jaringan dan perluasan portofolio layanan ke ranah keamanan siber serta pengelolaan data korporasi.
Selain dampak finansial langsung, ekosistem seluler juga menjadi pilar penciptaan lapangan kerja dengan menyerap sekitar 18 juta tenaga kerja pada tahun 2025. Namun, pertumbuhan ini dibayangi oleh meningkatnya ancaman kejahatan siber. Data GSMA menunjukkan lonjakan signifikan pada kasus penipuan digital di Asia Tenggara, di mana 45 persen konsumen ASEAN mengaku pernah menjadi korban fraud, naik dari 31 persen pada periode sebelumnya. Hal ini memaksa operator untuk memperketat sistem keamanan guna menjaga kepercayaan publik dalam bertransaksi digital.
Tantangan lain yang mengemuka adalah urgensi kedaulatan digital dan ketahanan infrastruktur. Banyak negara di Asia Pasifik kini memperkuat investasi pada infrastruktur AI domestik demi melindungi data nasional, sembari memastikan jaringan tetap berfungsi di tengah ancaman bencana alam atau ketegangan geopolitik. Kendati demikian, GSMA mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara proteksi data dan ruang kolaborasi lintas batas yang inovatif.
Di sisi lain, kawasan ini masih menghadapi pekerjaan rumah besar berupa ketimpangan pemanfaatan internet (usage gap). Meskipun infrastruktur broadband seluler telah menjangkau wilayah mereka, lebih dari 700 juta orang dewasa di Asia Pasifik dilaporkan belum memanfaatkan layanan internet tersebut. Masalah keterjangkauan harga perangkat, tarif paket data, serta literasi digital yang minim menjadi faktor penghambat utama yang memerlukan sinergi lintas sektor untuk diselesaikan.
Berbagai isu strategis ini, mulai dari adopsi AI hingga penanganan kesenjangan digital, akan menjadi agenda utama dalam forum industri M360 ASEAN 2026. Pertemuan tingkat tinggi yang dijadwalkan berlangsung di Kuala Lumpur pada 9–10 September 2026 ini akan mempertemukan para pembuat kebijakan, regulator, dan pelaku industri guna merumuskan arah masa depan ekosistem digital regional. Laporan proyeksi ekonomi dari GSMA ini sendiri mencakup wilayah Asia Pasifik secara luas, di luar kawasan Tiongkok Raya.