Argentina berhasil mengamankan satu tiket ke babak perempat final Piala Dunia 2026 setelah melewati laga penuh drama melawan Mesir. Pertandingan yang berakhir dengan skor 3-2 tersebut menjadi saksi perjuangan mental juara bertahan yang sempat tertinggal dua gol dan gagal dalam eksekusi penalti.
Lionel Messi, sang kapten yang berusia 39 tahun, tampak sangat emosional selepas peluit panjang dibunyikan. Tangisnya pecah bukan sekadar karena euforia kemenangan, melainkan akumulasi rasa bersalah akibat kegagalannya mengeksekusi penalti yang hampir merugikan rekan setimnya di awal laga. Beruntung, gol penyeimbang yang ia cetak pada menit ke-83 menjadi pemantik kebangkitan La Albiceleste.
Dalam keterangannya, Messi mengungkapkan beban emosional yang ia pikul sepanjang laga. Ia mengaku sempat merasa mengecewakan rekan-rekannya, namun ia bersyukur karena tim mampu menunjukkan mentalitas pantang menyerah. Pertandingan ini memang berjalan sangat sulit bagi Argentina, terutama berkat penampilan impresif skuad Mesir yang dipimpin Mohamed Salah.
Momen emosional tersebut sontak memantik reaksi luas di media sosial. Banyak warganet yang segera membandingkan tangis Messi dengan Cristiano Ronaldo, yang sebelumnya juga tertangkap kamera menangis saat Portugal harus tersingkir lebih awal dari turnamen ini. Perbandingan dua legenda sepak bola dunia tersebut kembali menghidupkan perdebatan klasik mengenai status 'GOAT' (Greatest of All Time).
Meski perdebatan di dunia maya terus memanas, sebagian penggemar memilih bersikap bijak. Banyak yang menilai bahwa air mata keduanya merupakan representasi manusiawi dari dedikasi mendalam terhadap karier profesional mereka. Bagi mereka, kedua legenda tersebut telah melewati perjuangan panjang dan emosi yang mereka tunjukkan adalah bukti nyata dari tekanan besar di panggung tertinggi sepak bola dunia.