Dunia akademik kini tengah didorong untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap metode pengabdian kepada masyarakat. Dr. Ir. Enike Dwi Kusumawati, S.Pt., M.P., IPM., dosen Fakultas Peternakan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), secara tegas mengusulkan pergeseran paradigma dari sekadar eksekusi program jangka pendek menuju strategi pemberdayaan yang berorientasi pada keberlanjutan dampak nyata.

Gagasan tersebut disampaikan oleh Dr. Enike saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional 2026 di Universitas Ma Chung. Ia menyoroti bahwa selama ini, banyak program pengabdian terjebak pada ketergantungan masyarakat terhadap pendamping, sehingga inovasi yang dibawa cenderung meredup setelah masa pendampingan berakhir. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa perguruan tinggi harus memosisikan masyarakat sebagai mitra strategis, bukan sekadar objek penerima manfaat.

Lebih lanjut, Dr. Enike menegaskan bahwa teknologi digital harus dipandang sebagai instrumen pendukung pemberdayaan, bukan tujuan akhir dari pembangunan itu sendiri. Menurutnya, secanggih apa pun teknologi yang diterapkan tidak akan memberikan manfaat maksimal jika tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas literasi dan keterampilan masyarakat dalam mengelolanya secara mandiri.

Dalam ranah praktis, pendekatan ini menuntut perubahan dalam indikator keberhasilan pengabdian. Keberhasilan tidak lagi diukur dari banyaknya peserta atau frekuensi kegiatan, melainkan dari peningkatan produktivitas, kemandirian ekonomi, serta adopsi teknologi yang relevan dengan kebutuhan lapangan. Hal ini diharapkan mampu membangun ekosistem masyarakat yang lebih kompetitif dan berdaya saing tinggi.

Sebagai penutup, Dr. Enike berharap perguruan tinggi dapat berfungsi lebih optimal sebagai jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan solusi persoalan nyata. Sinergi antara riset dan pengabdian yang tepat guna menjadi kunci utama agar kehadiran akademisi di tengah masyarakat benar-benar meninggalkan jejak perubahan yang inklusif dan berkelanjutan.