Penerapan teknologi ramah lingkungan kini menjadi arah baru dalam dunia konstruksi global. Menanggapi tantangan tersebut, dosen Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Ir. Maranatha Wijayaningtyas, S.T., M.MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., memaparkan berbagai inovasi mutakhir mulai dari beton biologis yang mampu memulihkan keretakan secara mandiri hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pembangunan infrastruktur masa depan.
Gagasan solutif ini disampaikan Maranatha saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional ARITEKIN 2026 yang berlangsung secara daring pada Rabu (15/07/2026). Mengusung tema inovasi material untuk infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan, seminar ini dihadiri oleh hampir seratus peserta lintas sektor, mulai dari akademisi, praktisi industri, mahasiswa, hingga perwakilan instansi pemerintah.
Dalam pemaparannya, Maranatha menekankan bahwa krisis iklim global memaksa industri konstruksi untuk segera meninggalkan metode konvensional yang boros energi. Ia menyerukan adanya pergeseran paradigma menuju pembangunan yang hijau, berbasis digital, cerdas, dan adaptif guna meminimalisasi emisi karbon sekaligus menahan laju degradasi infrastruktur fisik.
Berbagai teknologi canggih turut dibahas, seperti penggunaan abu terbang (fly ash) untuk mengurangi porsi semen, pemanfaatan material alami terekayasa seperti bambu dan kayu laminasi silang (CLT), serta penerapan teknologi sensor berbasis Internet of Things (IoT) untuk pemantauan kesehatan jembatan. Riset global mengenai beton pintar yang mampu menutup retakan sendiri menggunakan mikroba—seperti yang dikembangkan di TU Delft dan MIT—kini juga tengah dikembangkan secara mandiri oleh tim Teknik Sipil ITN Malang.
Meski berlatar belakang sebagai dosen Program Studi Arsitektur, Maranatha menegaskan bahwa pemahaman teknologi konstruksi sangat penting bagi arsitek modern. Kolaborasi multidisiplin antara arsitektur dan teknik sipil melahirkan konsep built environment yang mengintegrasikan estetika bangunan dengan kekuatan struktur, teknologi digital, serta kelestarian lingkungan secara menyeluruh.
Di sisi lain, keikutsertaan Maranatha dalam ajang tahunan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusinya dalam Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia (ARITEKIN). Sejak bergabung pada tahun 2024, ia menilai wadah ilmiah ini sangat strategis dalam memfasilitasi pertukaran ide, memperkuat jejaring akademis lintas kampus, serta mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi khususnya dalam bidang riset dan pengabdian masyarakat.