Teknologi pemodelan bawah permukaan (subsurface) kini menjadi kunci krusial dalam mengoptimalkan potensi sektor pertambangan, energi terbarukan, dan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Menjawab kebutuhan tersebut, Seequent, yang merupakan bagian dari The Bentley Subsurface Company, menggelar forum "Seequent Connect Indonesia 2026" di Jakarta guna mempererat kolaborasi lintas sektor bersama pelaku industri, akademisi, dan asosiasi profesi.

Direktur Pengembangan Bisnis Seequent, Scott Moore, menegaskan bahwa Indonesia memegang peranan strategis sebagai salah satu pasar utama mereka di kawasan Asia Pasifik. Menurutnya, tantangan terbesar di sektor pertambangan, panas bumi, dan infrastruktur adalah bagaimana mendapatkan visualisasi dan pemahaman yang akurat mengenai kondisi di bawah permukaan bumi. Seequent hadir bukan untuk mendikte komoditas atau metode kerja, melainkan menyediakan perangkat lunak pintar yang membantu para insinyur dan ahli geosains mengambil keputusan berbasis data secara presisi.

Langkah ini dinilai sangat relevan dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045, di mana mitigasi risiko proyek sejak dini menjadi sangat krusial. Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), STJ Budi Santoso, menambahkan bahwa pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), sensor mutakhir, dan platform digital dalam pemodelan subsurface terbukti mempercepat proses analisis geologi. Hal ini memungkinkan para pengambil kebijakan bertindak lebih cepat berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang kuat di lapangan.

Selain penyediaan teknologi, Seequent juga fokus pada pengembangan kapasitas sumber daya manusia lokal. Kolaborasi strategis telah dijalin bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk penyediaan lisensi perangkat lunak pendidikan, serta kemitraan dengan Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) untuk menyelenggarakan pelatihan khusus berbahasa Indonesia bagi mahasiswa dan profesional muda. Ketua MGEI, Rosalyn Wullandhary, menyambut baik sinergi ini sebagai ruang berbagi pengalaman praktis demi memajukan industri geosains nasional.

Implementasi teknologi pemodelan ini telah memberikan dampak finansial yang signifikan pada sejumlah proyek besar di tanah air. Di Sulawesi, PT Stargate berhasil menghemat biaya pengeboran nikel hingga USD 8 juta dan memangkas kebutuhan pengeboran hingga 80 persen. Sementara itu, PT Pertamina Geothermal Energy di Lumut Balai Unit 3 sukses menurunkan anggaran pengeboran dari USD 9 juta menjadi USD 7,5 juta. Pada sektor infrastruktur, PT Hutama Karya juga memanfaatkan teknologi serupa pada proyek Jalan Trans-Papua untuk menghemat biaya operasional sebesar USD 1 juta sekaligus mempercepat waktu pengerjaan selama dua bulan.