Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa positif dengan menguat sebesar 1,37 persen ke posisi 6.319,61 pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Kenaikan ini memperpanjang tren pemulihan pasar modal dalam negeri setelah sebelumnya mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang bulan Juli lalu.
Gairah pasar saham kali ini dipicu oleh kombinasi sentimen positif dari dalam negeri maupun global. Faktor pendorong utamanya meliputi peningkatan likuiditas di pasar keuangan, masuknya kembali dana investor asing (net buy), penurunan imbal hasil (yield) obligasi, serta meredanya kekhawatiran inflasi menyusul penurunan harga minyak mentah dunia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengonfirmasi adanya perbaikan kualitas perdagangan ini. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa selisih harga beli dan jual (bid-ask spread) di pasar saham kini semakin menyempit. Kondisi ini menjadi indikator efisiensi transaksi yang tinggi sekaligus mencerminkan pulihnya kepercayaan para pelaku pasar.
Dari sisi makroekonomi, nilai tukar rupiah terpantau menguat ke level Rp17.969 per dolar AS pada pertengahan pekan. Di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun tipis menjadi 7,36 persen. Pergerakan ini sejalan dengan penurunan yield US Treasury ke level 4,618 persen setelah bank sentral AS, The Fed, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan mereka di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.
Sementara itu, penurunan harga minyak mentah jenis Brent sebesar 5 persen ke level US$79,36 per barel turut meredakan tekanan inflasi global. Di pasar komoditas lain, harga emas spot masih bergerak fluktuatif di kisaran US$4.069 hingga US$4.081 per troy ounce, namun tetap kokoh bertahan di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce.
Melihat momentum pemulihan ini, para pelaku pasar disarankan untuk mencermati berbagai instrumen investasi secara selektif. Reksadana saham menjadi opsi menarik bagi investor menjaga peluang dari kenaikan indeks saham. Sementara itu, reksadana campuran menawarkan alternatif diversifikasi yang lebih stabil, sedangkan reksadana pasar uang dan emas tetap relevan sebagai instrumen pelindung nilai di tengah sisa-sisa ketidakpastian global.