Ketegangan antara Washington dan Teheran sempat memanas setelah kedua negara terlibat aksi saling serang selama tiga hari berturut-turut, mulai Selasa hingga Kamis lalu. Situasi kian pelik ketika Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antar-kedua negara telah berakhir, memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka yang lebih luas.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan adanya pergeseran strategi dari pihak Amerika Serikat. Sejumlah pejabat tinggi Washington mengonfirmasi bahwa penghentian sementara serangan dilakukan secara sengaja. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan untuk memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi agar dapat berjalan di balik layar guna meredam eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut.
Meski memprioritaskan dialog, pihak Amerika Serikat tetap bersikap tegas. Washington dilaporkan masih menyimpan daftar target strategis sebagai instrumen tawar-menawar dalam negosiasi dengan Teheran. Otoritas AS menegaskan bahwa mereka memiliki kesiapan teknis untuk melanjutkan kembali operasi militer sewaktu-waktu jika diperlukan, tergantung pada dinamika situasi di lapangan.
Di sisi lain, kesiapsiagaan militer tetap terjaga ketat, terutama di atas kapal induk USS Abraham Lincoln yang berada di kawasan Laut Arab. Para awak pesawat tempur dikabarkan terus melakukan latihan rutin dan melengkapi jet-jet tempur dengan persenjataan lengkap. Komandan kapal induk tersebut pun telah menginstruksikan seluruh personel untuk tetap waspada sesuai dengan prosedur operasional standar di tengah kondisi keamanan yang terus berubah.
Pihak AS juga menyanggah klaim Iran mengenai adanya serangan tambahan yang terjadi pada malam hari, menyebut informasi tersebut tidak akurat. Meski jalur diplomasi kini menjadi fokus utama, Washington menekankan bahwa kebijakan pertahanan mereka bersifat dinamis dan tetap mempertimbangkan opsi serangan lanjutan apabila situasi kembali memburuk.