Laporan terbaru dari Kantor Berita Fars mengungkapkan temuan signifikan mengenai aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk menyusul ketegangan yang memuncak dengan Iran. Berdasarkan analisis data navigasi penerbangan, terdeteksi pergerakan pesawat militer AS yang berpangkalan di Arab Saudi dan Qatar selama berlangsungnya operasi udara terhadap wilayah pesisir Iran pada Minggu malam (12/7/2026).

Hasil pemantauan lalu lintas udara menunjukkan adanya keterlibatan pesawat Boeing E-3 Sentry, sebuah unit peringatan dini dan komando udara AS, yang lepas landas dari pangkalan di Arab Saudi. Selain itu, Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar dilaporkan menjadi pusat operasi bagi lebih dari 20 pesawat tanker KC-135, yang berfungsi sebagai pendukung logistik pengisian bahan bakar bagi jet tempur di udara selama misi berlangsung.

Sebagai respons atas serangan tersebut, otoritas militer Iran melalui Markas Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa setiap titik yang menjadi asal peluncuran serangan terhadap kedaulatan mereka akan dianggap sebagai target militer yang sah. Hal ini menyusul laporan mengenai adanya balasan Iran yang menyasar sejumlah titik peluncuran serangan di kawasan, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid.

Di sisi lain, pemerintah Arab Saudi dan Qatar secara resmi telah melayangkan kecaman atas serangan rudal yang dilakukan oleh Iran. Riyadh menuding Teheran melanggar prinsip hukum internasional, sementara Doha menyatakan sikap serupa terkait eskalasi konflik tersebut.

Hingga saat ini, klaim yang dilontarkan oleh laporan tersebut mengenai dukungan aktif kedua negara Arab terhadap operasi AS masih belum mendapatkan konfirmasi resmi. Baik pihak Arab Saudi maupun Qatar belum memberikan tanggapan mendalam, sehingga validasi independen terhadap keterlibatan langsung pangkalan-pangkalan tersebut masih terus dipantau oleh komunitas internasional.