Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa sejumlah kawasan di Sumatra dan Kalimantan kini memasuki fase krusial. Selain merusak ekosistem, bencana tahunan ini memicu krisis kesehatan serius akibat kepungan kabut asap beracun yang mengancam keselamatan warga di wilayah terdampak.

Sorotan tajam datang dari Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Obet Rumbruren. Ia menegaskan bahwa partikel halus, karbon monoksida, dan berbagai senyawa polutan berbahaya dalam asap karhutla berpotensi menimbulkan dampak fatal jika tidak dimitigasi secara cepat dan terukur oleh pemerintah.

Menurut Obet, paparan polutan tersebut berisiko tinggi memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, radang tenggorokan, hingga iritasi kulit dan mata. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) menjadi pihak yang paling terancam mengalami komplikasi hingga gangguan kardiovaskular.

Menanggapi kondisi tersebut, Obet mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera bersinergi memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan serta tenaga medis di titik-titik rawan. Selain mengimbau warga mengurangi aktivitas luar ruangan dan mengenakan masker yang memadai, ia menekankan pentingnya penguatan sistem pemantauan kualitas udara yang responsif.

Ia memungkas bahwa penanganan karhutla harus dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir. Pencegahan kebakaran di kawasan hutan memang menjadi langkah utama, tetapi perlindungan medis dan jaminan kesehatan bagi masyarakat yang terlanjur terpapar asap harus menjadi prioritas mendesak.