Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi aktivitas El Nino fase kuat sejak akhir Juli 2026. Fenomena iklim global ini diproyeksikan memicu musim kemarau yang jauh lebih kering dengan durasi lebih panjang. Puncak kekeringan diperkirakan berlangsung sepanjang Agustus hingga September di sebagian besar wilayah Indonesia, membawa dampak multidimensi bagi masyarakat.

Bagi masyarakat di daerah rentan, kemarau ekstrem bukan sekadar kenaikan suhu udara, melainkan ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup sehari-hari. Menyusutnya sumber air tanah memaksa warga mengalokasikan anggaran ekstra yang cukup besar untuk membeli air bersih. Bagi yang tidak mampu, pilihan terakhir adalah menghabiskan waktu berjam-jam berjalan kaki demi mencari pasokan air, yang secara otomatis memangkas produktivitas ekonomi mereka.

Krisis air bersih ini berkolerasi langsung dengan penurunan standar sanitasi dan higienitas rumah tangga. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa keterbatasan air bersih memicu penularan penyakit mematikan seperti diare, kolera, dan tifoid. Sementara itu, UNICEF Indonesia menekankan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi risiko penurunan kualitas kesehatan akibat krisis air ini.

Potret krisis ini terlihat jelas di Gunung Kidul, Yogyakarta, di mana warga dilaporkan harus menempuh medan berbukit sejauh dua kilometer demi mendapatkan air bersih. Fenomena serupa kini tidak lagi hanya terjadi di pelosok, namun juga mulai melanda wilayah urban seperti Bekasi dan Kota Bogor, menegaskan bahwa ancaman kekeringan kian meluas.

Sektor pertanian juga menjadi area yang paling terdampak oleh defisit air. Gagal panen tidak hanya mengancam ketahanan pangan lokal, tetapi juga memutus sumber pendapatan utama para petani. Untuk mengantisipasi kerugian yang lebih besar, BMKG merekomendasikan langkah taktis berupa percepatan masa tanam serta prioritas distribusi air pada fase kritis pertumbuhan tanaman.

Merespons situasi darurat ini, Dompet Dhuafa menggalang solidaritas publik melalui program Sedekah Air Bersih untuk membantu distribusi air ke wilayah terdampak. Langkah kemanusiaan ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisik semata, melainkan juga menjaga harapan dan martabat hidup keluarga yang tengah berjuang di tengah himpitan bencana kekeringan.