Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bersama BPJS Kesehatan Cabang Kota Yogyakarta mulai merancang langkah strategis untuk menerapkan sistem pemindaian sidik jari (fingerprint) di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) atau Puskesmas. Langkah ini diambil guna meningkatkan akurasi data pasien sekaligus menekan potensi penyalahgunaan identitas kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Rencana tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Kebijakan Fingerprint di FKTP yang berlangsung di Aula 1 Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Umbulharjo. Agenda ini mempertemukan Kepala Puskesmas se-Kota Yogyakarta, jajaran lintas bidang Dinas Kesehatan, serta perwakilan dari BPJS Kesehatan guna menyamakan persepsi dan mengukur kesiapan infrastruktur di lapangan.
Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Tradisional Komplementer Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, drg. Arumi Wulansari, MPH., menjelaskan bahwa koordinasi ini sangat krusial untuk memastikan kesiapan teknis Puskesmas. Mengingat jumlah peserta JKN secara nasional telah menembus 285 juta jiwa per Mei 2026, pengelolaan data secara manual dinilai sangat rentan terhadap praktik fraud atau kecurangan penggunaan kartu milik orang lain untuk mengakses layanan medis gratis.
Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Yogyakarta, Subkhan, S.K.M., M.Kes., AAA., mengungkapkan bahwa sistem pemindaian sidik jari sejauh ini baru diwajibkan di tingkat rumah sakit atau Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL). Pihaknya kerap menemukan kasus di mana kartu kepesertaan dari warga yang sudah meninggal dunia atau berstatus nonaktif masih digunakan oleh pihak lain untuk mendapatkan penjaminan pengobatan.
Menanggapi hal tersebut, para Kepala Puskesmas di Kota Yogyakarta menyatakan kesiapannya untuk menyediakan perangkat pemindai sidik jari. Terlebih, aspek ini menjadi salah satu poin penilaian penting dalam proses kredensial kelayakan fasilitas kesehatan. Sebagai langkah awal, Dinas Kesehatan bersama BPJS Kesehatan akan menyusun lini masa pelaksanaan dan segera melakukan uji coba di salah satu Puskesmas percontohan yang dinilai paling siap secara infrastruktur.