Latihan angkat beban sering kali diidentikkan dengan upaya pembentukan massa otot semata. Namun, manfaat olahraga ini rupanya jauh lebih luas, mencakup pemeliharaan kesehatan jantung hingga optimalisasi fungsi kognitif otak.

Dosen Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes., AIFM., menjelaskan bahwa latihan beban dapat meningkatkan metabolisme tubuh secara signifikan. Aktivitas ini memacu jantung untuk menyuplai nutrisi ke otot secara optimal serta melancarkan aliran darah menuju otak. Sirkulasi darah yang lancar ke otak ini memicu pelepasan hormon kebahagiaan sekaligus meningkatkan ketajaman berpikir.

Secara biologis, kontraksi otot saat latihan beban melepaskan protein aktif seperti miosin dan aktin. Protein-protein inilah yang kemudian berkomunikasi dengan organ tubuh lain, termasuk otak dan jantung, untuk merangsang proses regenerasi sel, pemulihan jaringan yang rusak, serta pencegahan berbagai penyakit kronis.

Untuk mencapai kebugaran yang ideal, Prof. Denny menyarankan kombinasi yang seimbang antara olahraga kardio dan latihan beban. Olahraga kardio seperti lari, berenang, atau bersepeda dapat dilakukan 3-5 kali seminggu selama 45 menit per sesi guna melatih kapasitas jantung dan paru-paru. Sementara itu, latihan beban cukup dilakukan 2-3 kali dalam seminggu untuk menjaga kekuatan otot secara jangka panjang.

Menariknya, latihan beban tidak melulu harus dilakukan di pusat kebugaran dengan peralatan mahal. Gerakan sederhana seperti push-up, squat, plank, maupun latihan dengan bantuan kursi di rumah sudah cukup efektif. Melatih otot sejak usia muda sangat dianjurkan untuk mencegah penurunan fungsi fisik, seperti tubuh bungkuk dan hilangnya kekuatan fisik saat memasuki usia senja.