Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini tengah mengarahkan fokus risetnya pada pengembangan berbagai teknologi strategis guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional jangka panjang. Langkah ini diambil demi memperkuat daya saing global Indonesia, yang dinilai sangat bergantung pada kapasitas inovasi dan penguasaan teknologi maju dalam dua hingga tiga dekade ke depan.

Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa kapasitas inovasi suatu negara memiliki korelasi erat dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita. Merujuk pada data Global Innovation Index (GII), posisi sepuluh besar didominasi oleh negara-negara dengan pendapatan tinggi seperti Swiss, Swedia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Hal ini mempertegas pentingnya riset sebagai motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam peta jalan teknologi terbarunya, BRIN menetapkan beberapa sektor prioritas. Salah satunya adalah pengembangan teknologi semikonduktor dalam negeri demi mengurangi ketergantungan pada cip impor. Selain itu, kecerdasan artifisial (AI) juga dioptimalkan untuk mendongkrak produktivitas nasional, termasuk mendukung program sosial pemerintah seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui inovasi sistem pemantauan 'Food Guard'.

Tidak hanya itu, BRIN juga membidik kemandirian di sektor pangan dan kesehatan melalui pengembangan teknologi genomik guna menghasilkan benih unggul serta produk bioindustri secara mandiri. Di bidang keamanan siber, teknologi kuantum disiapkan untuk mendukung sistem komputasi masa depan yang lebih aman.

Di sektor energi dan kedaulatan wilayah, penguasaan teknologi nuklir serta antariksa menjadi prioritas utama. BRIN berkomitmen membangun ekosistem nuklir nasional secara menyeluruh, mulai dari pengelolaan bahan baku uranium dan torium hingga kesiapan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), agar Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen teknologi asing saat era energi nuklir dimulai.