NUSA DUA – Gelaran Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 resmi dibuka dengan skala yang jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bertempat di Nusa Dua, Bali, forum telekomunikasi berskala global yang diinisiasi oleh Telin (anak usaha Telkom Group) ini mempertemukan lebih dari 2.700 delegasi dari 67 negara guna membahas arah baru infrastruktur dan bisnis digital di era kecerdasan buatan (AI).

Penyelenggaraan ke-11 ini mencatatkan lonjakan partisipasi yang signifikan, melibatkan sekitar 1.100 perusahaan global. Selain memperluas jejaring, BATIC tahun ini meluncurkan program khusus bertajuk IgnitePro. Segmen konferensi eksekutif ini secara spesifik membedah isu-isu krusial sektor korporasi modern, mulai dari AI otonom, komputasi awan, keamanan siber, hingga infrastruktur digital cerdas.

CEO Telin, Abdul Rahman Ansyori, menjelaskan bahwa kehadiran IgnitePro dirancang agar konferensi ini tetap selaras dengan dinamika industri global. Mengusung tema 'Unleashing Ecosystem to Drive Adaptive Progress', BATIC menekankan bahwa akselerasi teknologi tidak lagi bisa dicapai secara parsial, melainkan harus melibatkan kolaborasi lintas sektor yang berorientasi pada kemitraan jangka panjang.

Potensi kolaborasi tersebut tecermin dari meningkatnya agenda pertemuan bisnis yang diperkirakan menembus 4.200 pertemuan. Direktur Utama Telkom Indonesia, Dian Siswarini, menilai peningkatan ini menegaskan peran strategis BATIC dalam mendukung proyeksi ekonomi digital nasional. Indonesia diprediksi memiliki nilai ekonomi digital mencapai 130 miliar dolar AS pada 2026, yang berpotensi melesat hingga 360 miliar dolar AS pada 2030 mendatang.

Meski potensinya menjanjikan, Dian mengingatkan bahwa pencapaian tersebut sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur digital berstandar global. Membangun daya saing digital nasional bukan sekadar kompetisi besaran investasi fisik, melainkan bagaimana menciptakan ekosistem pendukung yang terintegrasi secara utuh dan berkelanjutan.

Tantangan nyata infrastruktur ini turut dipicu oleh meledaknya kebutuhan konektivitas akibat pemanfaatan AI. Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia, Budi Satria D. Purba, mengungkapkan bahwa koneksi antarpusat komputasi (compute-to-compute) melonjak hingga puluhan kali lipat. Fenomena ini memicu tingginya kebutuhan kabel laut internasional baru, seperti proyek kabel Bifrost yang kapasitasnya langsung terisi penuh kurang dari setahun setelah beroperasi.

Di tengah tantangan rantai pasok global dan dinamika geopolitik, ketersediaan konektivitas global menjadi mutlak agar Indonesia sukses bertransformasi menjadi pusat data center regional. Melalui BATIC 2026, para operator, penyedia teknologi, hingga regulator diharapkan dapat bersinergi memitigasi risiko sekaligus menangkap peluang era kecerdasan buatan.