Kerap dianggap sepele sebagai pegal linu biasa akibat kelelahan fisik, nyeri pada persendian rupanya menyimpan potensi bahaya medis yang serius. Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, FACR, memperingatkan bahwa keluhan sendi yang berkepanjangan bisa jadi merupakan alarm awal dari penyakit rematik autoimun yang berisiko merusak organ vital tubuh.

Menurut dr. Sandra, kebiasaan masyarakat yang mengabaikan gejala ini dengan hanya mengonsumsi obat pereda nyeri bebas sangatlah berisiko. Salah satu jenis rematik autoimun, yakni Rheumatoid Arthritis (RA), terbukti tidak hanya menghambat mobilitas penderitanya, melainkan juga memicu peradangan kronis yang dapat merambat hingga ke jantung. Jika dibiarkan tanpa penanganan medis yang tepat, inflamasi sistemik ini bahkan berpotensi fatal dan meningkatkan risiko kematian prematur.

Selain gangguan pada jantung, penyakit autoimun lain seperti Skleroderma juga kerap diawali dari keluhan linu pada sendi. Penyakit ini menyerang elastisitas kulit penderitanya, membuatnya menjadi kaku dan mengeras layaknya kayu, serta memicu perubahan pigmen kulit menjadi lebih gelap atau memunculkan bercak putih. Dalam jangka panjang, komplikasi Skleroderma dapat menyebar hingga merusak fungsi paru-paru dan sistem peredaran darah.

Jenis penyakit autoimun lain yang patut diwaspadai adalah Sindrom Sjogren. Berbeda dengan jenis lainnya, sindrom ini secara spesifik menyerang kelenjar penghasil cairan tubuh. Akibatnya, pasien akan mengalami gejala mata dan mulut yang kering secara terus-menerus, yang sering kali didahului oleh rasa nyeri sendi. Dokter menekankan pentingnya keterbukaan informasi dari pasien saat pemeriksaan agar deteksi dini dapat segera dilakukan sebelum terjadi kerusakan kelenjar yang parah.

Terakhir, keluhan sendi juga rentan dialami oleh pasien yang memiliki riwayat penyakit kulit psoriasis. Sekitar sepertiga dari penderita psoriasis berisiko mengalami Arthritis Psoriatik yang dapat memicu kecacatan fisik. Gejala khasnya meliputi pembengkakan ekstrem pada jari hingga menyerupai sosis (daktilitis) serta rasa nyeri hebat pada tendon Achilles di area tumit. Penanganan sejak dini menjadi kunci utama untuk mencegah kerusakan sendi permanen.