Trauma psikologis akibat peristiwa masa lalu ternyata tidak hanya membekas dalam ingatan, melainkan juga dapat mengendap di dalam tubuh. Reaksi fisik seperti otot menegang secara tiba-tiba, sakit kepala, hingga gangguan tidur sering kali menjadi sinyal bahwa tubuh sedang menyimpan sisa-sisa stres dari pengalaman traumatis yang belum terselesaikan.

Psikolog dari Aster Whitefield Hospital Bengaluru, S Giriprasad, menjelaskan bahwa trauma memiliki dampak nyata pada sistem saraf, hormonal, otot, hingga kekebalan tubuh manusia. Ketika seseorang mengalami peristiwa berat, tubuh secara otomatis mengaktifkan mekanisme bertahan hidup seperti melawan (fight), melarikan diri (flight), atau membeku (freeze). Jika trauma tersebut tidak segera ditangani, sistem saraf akan kesulitan kembali ke kondisi rileks dan normal.

Akibatnya, tubuh terus berada dalam posisi defensif karena menganggap ancaman masih mengintai, meskipun situasi bahaya sebenarnya telah berlalu. Respons defensif ini jarang muncul sebagai memori yang jelas. Sebaliknya, jejak trauma bermanifestasi dalam bentuk ketegangan otot kronis, sensasi fisik mendadak, perubahan suasana hati yang drastis, hingga kelelahan ekstrem.

Kondisi stres berkepanjangan ini memicu produksi hormon adrenalin dan kortisol secara berlebih dalam jangka panjang. Pengalihan energi tubuh untuk mode bertahan hidup ini pada akhirnya dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari nyeri punggung, gangguan pencernaan, penyakit autoimun yang kerap kambuh, hingga insomnia.

Mengidentifikasi keluhan fisik yang bersumber dari trauma memang membutuhkan kecermatan. Gejala-gejala fisik ini umumnya cenderung memburuk saat pasien mengalami tekanan emosional atau menghadapi pemicu dari masa lalu. Uniknya, keluhan fisik tersebut sering kali mereda ketika pasien mulai merasa aman secara psikologis, meskipun hasil pemeriksaan medis klinis tidak menunjukkan adanya kerusakan struktural organ tubuh.

Mengingat keterkaitan erat antara kesehatan mental dan fisik, pemeriksaan medis yang komprehensif tetap sangat dianjurkan. Pendekatan pemulihan yang efektif tidak hanya berfokus pada pengobatan fisik semata, melainkan juga harus menyentuh akar permasalahan emosional agar tubuh dapat sepenuhnya pulih dari bayang-bayang trauma.