Pemerintah Indonesia terus berupaya mempercepat penanggulangan masalah sampah nasional dengan mengintegrasikan inovasi teknologi. Langkah teranyar adalah mendorong pemanfaatan teknologi pirolisis guna melengkapi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang saat ini tengah dikembangkan di berbagai daerah.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa kapasitas PSEL yang ada saat ini belum mampu menampung seluruh timbulan sampah secara nasional. Estimasi menunjukkan bahwa 13 titik PSEL yang direncanakan—termasuk proyek di Palembang yang ditargetkan beroperasi pada Oktober 2026—baru bisa mengolah sekitar 22 persen dari total volume sampah nasional.
Untuk menambal celah tersebut, teknologi pirolisis dihadirkan sebagai solusi komplementer. Melalui proses kimiawi ini, sampah padat yang menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dikonversi menjadi bahan bakar alternatif setara solar. Pemerintah memproyeksikan implementasi teknologi ini secara massal mampu mereduksi hingga 20 persen beban sampah nasional.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah bersinergi dengan TNI Angkatan Darat serta pemerintah daerah untuk menjalankan proyek percontohan di lima wilayah strategis. Wilayah uji coba tersebut meliputi DKI Jakarta, Kota Bekasi, Kota Semarang, Kota Bogor, dan Kabupaten Bogor, sekaligus untuk mendukung akselerasi Proyek Strategis Nasional PSEL Bogor Raya 1.
Zulkifli menekankan pentingnya peran aktif pemerintah daerah dalam mempermudah perizinan, menyediakan lahan, serta menjamin kontinuitas pasokan sampah ke fasilitas pengolahan. Transformasi sampah menjadi sumber energi terbarukan ini diharapkan tidak hanya mengatasi penumpukan di TPA dan meminimalisasi risiko kebakaran saat musim kemarau, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bernilai tambah bagi masyarakat.