Universitas Negeri Makassar (UNM) kini tengah memelopori solusi inovatif untuk mengatasi persoalan limbah organik sekaligus mendukung kemandirian pakan nasional. Melalui proyek penelitian yang dipimpin oleh Prof. Dr. Adnan, M.S., tim akademisi ini mengembangkan teknologi biokonversi berbasis larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot di Laboratorium Kebun Percobaan Biologi (LKPB) FMIPA UNM.
Proyek yang didanai oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia ini memanfaatkan sampah organik dari warung makan, restoran, dan pasar tradisional di sekitar area kampus. Limbah yang biasanya menumpuk dan mencemari lingkungan diolah menjadi biomassa maggot berkadar protein tinggi yang sangat ideal untuk pakan alternatif sektor perikanan dan peternakan.
Selain menghasilkan pakan bernutrisi tinggi, sisa proses penguraian berupa residu atau frass dapat dimanfaatkan langsung sebagai pupuk organik berkualitas. Inisiatif ini menerapkan konsep ekonomi sirkular (circular economy), di mana limbah tidak lagi dibuang, melainkan didaur ulang menjadi produk baru yang bernilai ekonomi tinggi serta ramah terhadap ekosistem.
Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. Adnan, M.S., menjelaskan bahwa riset ini dirancang untuk memberikan dampak positif yang luas. Menurutnya, teknologi ini tidak hanya berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)—seperti pengentasan kelaparan, pendidikan berkualitas, dan penanganan perubahan iklim—tetapi juga memperkuat sinergi multisektor demi kesejahteraan masyarakat.
Keunggulan lain dari program ini adalah keterlibatan aktif mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA UNM yang mendapatkan pengalaman riset langsung di lapangan. Dengan mengusung pendekatan pentahelix yang menggandeng akademisi, pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, hingga media, UNM berharap model bisnis berbasis biokonversi ini dapat segera dihilirisasi dan direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.